Bappenas Targetkan 15 Juta Pekerjaan Lewat Ekonomi Biru, Ini Sumbernya
Ada sekitar 2-5 juta keluarga yang menggantungkan hidupnya pada sektor kelautan.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) terus berupaya memperkuat ekonomi biru bagi Indonesia. Sektor ekonomi yang berasal dari pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan tersebut dipercaya bakal menciptakan hingga 15 juta lapangan kerja di 2045.
"Kalau dari target sampai tahun 2045, itu diharapkan bisa mencapai 15 juta pekerja dari ekonomi biru," kata Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo AA Teguh Sambodo, di Jakarta, Selasa (15/7).
Sebagai gambaran, Teguh menyampaikan, ada sekitar 2-5 juta keluarga yang menggantungkan hidupnya pada sektor kelautan. Sebagian besar daripadanya tinggal di wilayah pesisir, dan masih hidup di bawah garis kemiskinan.
"Di sinilah sebenarnya jadi satu relevansi, kenapa pemerintah punya fokus khusus untuk blue economy. Karena di kantong-kantong ini lah yang sebenarnya ada potensi sumber daya yang besar, tapi belum bisa diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan," ungkapnya.
Untuk itu, Bappenas mengutamakan prinsip agar bisa memperbaiki tata kelola lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat secara bersamaan. Teguh melihat ada beberapa nilai ekonomi yang bisa dikembangkan, semisal program dekarbonisasi yang tengah gencar dikejar oleh industri.
"Sekarang kan ada pasar karbon, mungkin itu juga salah satu yang dikembangkan. Bagaimana kita menjaga mangrove, Indonesia punya potensi sangat luar biasa untuk itu," ujar dia.
Potensi Lapangan Kerja Sangat Banyak
Senada, Direktur Eksekutif UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) Josephine Satyono mengutarakan, sektor ekonomi biru di Indonesia berpotensi menciptakan lapangan kerja dengan jumlah yang sangat banyak.
Ia lantas mencontohkan industri minyak sawit (palm oil), yang kian berkembang lantaran permintaan produknya dalam program transisi energi semakin membesar.
"Itu palm oil 20 tahun lalu seperti apa, tapi sekarang bukan main para pekerja-pekerja di situ, smallholders, keluarga yang mengelola. Mereka bisa kemudian bisa menjaga ekonomi keluarga, dan bahkan menyekolahkan anak," ucapnya.
Potensi Ekspor Rumput Laut dan Bulu Babi
Ke depan, ia memperkirakan nilai ekonomi dari ekspor rumput laut (sea weed) hingga landak laut (bulu babi) di Indonesia sangat besar.
"Kita bisa lihat potensi daripada palm oil itu, menyangkut hampir seluruh hajat hidup kita. Sea weed juga begitu. Bagaimana contoh untuk sea weed aja, kalau kita jaga kebersihan laut dan kemudian menarik minat para petani rumput laut, potensinya besar banget," bebernya.
"Itu baru bicara satu hal. Di laut tuh kita bicara banyak banget. Untuk menangkap landak laut aja, kalau dijaga dengan benar dan diekspor, harganya mahal sekali," pungkas Josephine.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481371/original/037143900_1769091608-Presiden_Prabowo_Subianto_di_WEF-3.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481376/original/075507400_1769092696-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_21.15.44.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5212278/original/085926800_1746607936-Inter_Milan_vs_Barcelona-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478810/original/094393800_1768927580-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456859/original/027443500_1766978470-Bahlil_Lahadalia.jpeg)





















