ESDM Banten: Aktivitas Tambang Ciwandan Bukan Penyebab Dominan Banjir Cilegon
Dinas ESDM Banten menepis anggapan aktivitas Tambang Ciwandan sebagai penyebab utama banjir di Cilegon. Lantas, apa saja faktor kompleks di balik bencana ini?

ESDM Banten: Aktivitas Tambang Ciwandan Bukan Penyebab Dominan Banjir Cilegon
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten menegaskan bahwa aktivitas pertambangan galian di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, bukanlah penyebab dominan banjir yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan persepsi publik mengenai kontribusi sektor pertambangan terhadap bencana alam.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten, Ari James Faraddy, menjelaskan bahwa berdasarkan data perizinan, hanya ada dua perusahaan tambang yang beroperasi secara legal di Kecamatan Ciwandan, yaitu PT Delimas Lestari dan PT Batu Buana Makmur. Kedua perusahaan ini merupakan satu-satunya entitas yang memiliki izin resmi untuk melakukan kegiatan pertambangan di area tersebut.
Ari James Faraddy menambahkan, banjir di wilayah Kepuh, Kecamatan Ciwandan, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks dan tidak bisa disimpulkan hanya berasal dari aktivitas pertambangan. Penilaian ini didasarkan pada analisis menyeluruh terhadap kondisi geografis dan perubahan lingkungan di kawasan tersebut.
Peran Tambang yang Tidak Dominan
Fakta menunjukkan bahwa luas total area tambang dari dua perusahaan legal tersebut hanya sekitar 32 hektare (ha). Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan luas keseluruhan wilayah Kecamatan Ciwandan yang mencapai sekitar 3.300 ha.
Dengan perbandingan tersebut, Ari James Faraddy menegaskan bahwa luas area tambang tersebut tidak lebih dari satu persen dari total luas Kecamatan Ciwandan. Proporsi yang minim ini mengindikasikan bahwa dampak langsung dari aktivitas pertambangan terhadap luas genangan banjir tidak signifikan.
Oleh karena itu, Dinas ESDM Banten berpendapat bahwa kontribusi Tambang Ciwandan terhadap terjadinya banjir tidak dominan. Penjelasan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih akurat kepada masyarakat mengenai akar permasalahan banjir di Cilegon.
Kompleksitas Faktor Penyebab Banjir Ciwandan
Menurut Ari, banjir yang terjadi di wilayah Kepuh, Kecamatan Ciwandan, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bersifat kompleks dan tidak dapat disimpulkan hanya berasal dari aktivitas pertambangan. Masalah banjir di kawasan ini memerlukan tinjauan dari berbagai aspek lingkungan dan pembangunan.
Salah satu faktor utama adalah masifnya pembukaan lahan untuk kawasan industri dan permukiman yang turut mengubah pola aliran air di wilayah tersebut. Pembangunan yang pesat tanpa perencanaan drainase yang memadai dapat memperburuk kondisi saat curah hujan tinggi.
Selain itu, banyaknya bangunan baru, baik yang resmi maupun tidak, menyebabkan limpasan air tidak lagi mengalir ke sungai, melainkan ke jalan, termasuk Jalan Lingkar Selatan. Perubahan tata guna lahan ini secara drastis mengubah sistem hidrologi alami daerah tersebut.
Kondisi banjir juga diperparah oleh faktor pasang air laut atau banjir rob yang sering terjadi di wilayah pesisir Ciwandan. Fenomena ini menyebabkan air dari daratan tidak bisa mengalir ke laut, sehingga genangan air semakin tinggi dan bertahan lebih lama.
Antisipasi dan Pengawasan Aktivitas Pertambangan
Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana, Dinas ESDM Provinsi Banten telah melakukan pemantauan rutin terhadap aktivitas pertambangan di wilayah tersebut. Pengawasan ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap kegiatan operasional tambang mematuhi standar lingkungan dan perizinan yang berlaku.
Selain pemantauan, Dinas ESDM Banten juga telah mengeluarkan surat edaran kepada para pemegang izin usaha pertambangan. Surat edaran bernomor 500.10.3.1/1332-DESDM/XII/2025 yang diterbitkan pada 24 Desember 2025 ini, memerintahkan pemegang izin pertambangan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan potensi banjir dalam beberapa bulan ke depan.
Langkah proaktif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan kegiatan pertambangan tetap berjalan sesuai ketentuan sekaligus meminimalkan risiko lingkungan di tengah potensi cuaca ekstrem. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475789/original/083728200_1768652285-113192.jpg)













