Ini yang Sebenarnya Terjadi di Balik Pelemahan IHSG
IHSG langsung dihentikan perdagangannya selama 30 menit.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan dengan penurunan signifikan pada Selasa, 8 April 2025, setelah libur Lebaran Idulfitri 2025. IHSG dibuka melemah 596,33 poin atau turun 9,16 persen, menuju level 5.914,28.
Sesuai dengan regulasi terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG langsung dihentikan perdagangannya atau trading halt selama 30 menit ketika mengalami penurunan lebih dari 8 persen.
Menurut Hendra Wardana, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id, pelemahan IHSG ini dipicu oleh kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan tersebut menyebabkan pasar saham global mengalami penurunan yang cukup tajam, sehingga investor cenderung memilih instrumen investasi yang lebih aman.
Hendra menjelaskan bahwa faktor utama yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham adalah kebijakan tarif dagang baru dari Presiden Trump yang menaikkan tarif hingga 32 persen terhadap produk-produk dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Kebijakan ini meningkatkan ketegangan perdagangan global yang kembali memanas, dan meskipun ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 9,9 persen dari total ekspor, dampaknya cukup terasa," ujar Hendra saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Selasa (8/4).
Selain itu, lambannya respons pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi dampak kebijakan tarif ini juga mempengaruhi kepercayaan pasar.
Ketidaksiapan pemerintah dalam merespons dengan cepat sebelum pasar dibuka membuat pelaku pasar kehilangan keyakinan, yang diperburuk dengan faktor teknikal seperti margin call dan forced sell, terutama pada saham-saham unggulan yang selama ini menopang IHSG.
Namun, meskipun IHSG tertekan, Hendra melihat pelemahan ini memberikan peluang bagi investor jangka panjang.
"Pelemahan IHSG justru menjadi momen yang baik untuk mencermati peluang akumulasi saham-saham dengan fundamental kuat yang saat ini tertekan berlebihan," jelas Hendra.
Bagi investor jangka pendek, ia menyarankan untuk terus memantau volatilitas pasar dan menunggu konfirmasi teknikal sebelum kembali berinvestasi.
Dalam pandangan Hendra, pelemahan IHSG ini lebih disebabkan oleh sentimen eksternal dan reaksi emosional pasar.
"Bukan karena kerusakan fundamental ekonomi domestik," tegasnya.
Ia menambahkan, bagi investor jangka panjang, kondisi ini bisa menjadi kesempatan besar untuk mengakumulasi saham-saham yang terkena dampak yang lebih besar dari sentimen negatif pasar global.
Ke depannya, kebijakan fiskal dan langkah diplomatik pemerintah Indonesia dalam menghadapi gejolak global akan sangat mempengaruhi arah pasar dalam beberapa hari ke depan.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/4750795/original/017104800_1708660528-lulalahfah_1708488000_3307090680726527786_199618161.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482389/original/022761000_1769179406-153888.jpg)
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5482334/original/036639300_1769174289-20260123IQ_Persija_Jakarta_vs_Madura_United__2_.JPG)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482360/original/014347500_1769176138-IMG-20260123-WA0193.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/776660/original/052966400_1417978317-Pohon-Tumbang.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482018/original/080904500_1769155010-b0db4398-038e-4906-93a8-9a8bb17baf56.jpeg)











