Penjelasan Sederhana Dampak Kebijakan Donald Trump terhadap Harga Emas
Kebijakan tarif impor Donald Trump memicu lonjakan harga emas akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang meningkat.

Harga emas memangkas koreksi pada perdagangan Kamis, 3 April 2025 setelah jatuh lebih dari dua persen dari titik tertinggi sepanjang masa. Harga emas turun imbas aksi jual yang dipicu oleh tarif impor Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Mengutip CNBC, Jumat (4/4), harga emas di pasar spot turun 0,85 persen menjadi USD 3.106,99 setelah mencapai rekor tertinggi USD 3.167,57 pada awal sesi perdagangan. Harga emas berjangka AS ditutup merosot 1,4 persen ke posisi USD 3.121,70.
Dalam beberapa tahun terakhir, tidak dapat dipisahkan dari kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan tarif impor yang diterapkan Trump telah menciptakan ketidakpastian di pasar global, mendorong investor untuk beralih ke aset 'safe haven' seperti emas. Kenaikan harga emas ini mencerminkan bagaimana kebijakan perdagangan dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.
Ancaman perang dagang dan perubahan kebijakan tarif yang mendadak telah menciptakan kekhawatiran di kalangan investor. Ketegangan yang meningkat di berbagai wilayah, termasuk Timur Tengah, juga berkontribusi terhadap permintaan emas sebagai lindung nilai terhadap risiko tersebut.
Perang dagang yang dipicu oleh kebijakan Trump, termasuk pengenaan tarif tinggi terhadap negara-negara mitra dagang, telah menambah ketidakpastian di pasar global. Investor mulai mencari aset yang lebih stabil dan aman, dan emas menjadi pilihan utama. Dalam konteks ini, emas tidak hanya dianggap sebagai komoditas, tetapi juga sebagai alat perlindungan terhadap inflasi dan resesi yang mungkin terjadi akibat kebijakan tersebut.
Ketidakpastian Ekonomi dan Geopolitik Mendorong Permintaan Emas
Ketidakpastian yang dihadapi oleh pasar global akibat kebijakan Trump telah membuat investor beralih ke emas. Kebijakan tarif yang berubah-ubah dan ancaman konflik dagang meningkatkan kekhawatiran akan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam situasi seperti ini, emas menjadi pilihan yang menarik bagi banyak investor yang ingin melindungi portofolio mereka dari risiko yang ada.
Contohnya, ultimatum yang diberikan Trump terhadap Iran menambah ketegangan geopolitik yang sudah ada, dan hal ini mendorong permintaan emas lebih tinggi. Ketika ketegangan meningkat, investor cenderung berinvestasi dalam emas untuk menghindari potensi kerugian dari aset lainnya. Hal ini tercermin dalam lonjakan harga emas yang mencapai rekor tertinggi baru-baru ini.
Selain itu, ekspektasi inflasi yang meningkat akibat kebijakan perdagangan juga menjadi pendorong kenaikan harga emas. Ketika inflasi diperkirakan akan meningkat, emas menjadi pilihan yang lebih menarik karena dianggap sebagai aset yang dapat mempertahankan nilainya di tengah inflasi yang tinggi.
Perang Dagang dan Dampaknya Terhadap Harga Emas
Pengenaan tarif impor oleh Trump terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia, telah menyebabkan lonjakan harga emas yang signifikan. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan eskalasi perang dagang, yang dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi global. Banyak investor beralih ke emas sebagai aset yang lebih stabil dalam situasi yang tidak menentu.
Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, kebijakan baru yang diterapkan Trump pada 2 April 2025, yang mengenakan tarif impor sebesar 32 persen, telah memberikan dampak besar terhadap pasar global. Setelah pengumuman tersebut, harga emas sempat menyentuh level USD 3.180 per ons, menunjukkan reaksi pasar yang kuat terhadap kebijakan tarif tersebut.
"Dampak dari perang dagang ini cukup luar biasa," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis.
Lonjakan harga emas ini juga didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah. Investor semakin khawatir akan dampak dari kebijakan luar negeri AS yang dapat memicu konflik lebih lanjut, sehingga mereka mencari perlindungan dalam bentuk emas.
Ekspektasi Penurunan Suku Bunga dan Permintaan Emas Fisik
Sementara kebijakan Trump berperan penting dalam kenaikan harga emas, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS juga turut mendukung tren ini. Suku bunga yang rendah membuat investasi dalam mata uang dan obligasi menjadi kurang menarik, sehingga investor beralih ke emas sebagai alternatif yang lebih menguntungkan.
Meningkatnya permintaan emas fisik, baik dari investor institusional maupun individu, juga berkontribusi pada kenaikan harga. Kepercayaan investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai semakin kuat, dan ini tercermin dalam peningkatan pembelian emas di pasar. Bank-bank sentral di seluruh dunia juga meningkatkan cadangan emas mereka sebagai alternatif terhadap dolar AS, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Data dari World Gold Council menunjukkan bahwa bank-bank sentral membeli 18 metrik ton emas pada bulan Januari, dengan Bank Sentral China melaporkan pembelian bersih dalam tiga bulan berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa permintaan emas fisik tetap kuat di tengah ketidakpastian yang ada.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483341/original/030961800_1769382685-Pembangunan_di_atas_danau_di_Depok.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/679846/original/ilustrasi-penganiayaan-140520-andri.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483329/original/055706900_1769381070-Eks_Napiter_di_Lampung_berinisial_JMD.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483328/original/072840600_1769380392-Direktur_Reskrimum_Polda_Sumut__Kombes_Pol_Ricko_Taruna_Mauruh.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483288/original/073482700_1769357867-000_93XG7YK.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483285/original/058893000_1769356791-Screenshot_20260125_221700_Instagram.jpg)























