Korsel tak mau tunduk tekanan asing

Guru besar kajian internasional di Universitas Hankook, Profesor Yang Seung Yoon, mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa Korea Selatan tetap melakukan latihan militer di dekat perbatasan Utara karena tidak ingin dilihat tunduk pada tekanan asing.
Menurut Yang, latihan penembakan artileri ini sebetulnya agenda rutin militer Selatan.
"Korea Selatan sampai sekarang tiap tahun melakukan latihan militer itu," ujarnya.
Dengan alasan kerutinan itulah, katanya, Korsel tidak ingin menghentikan latihan tersebut hanya karena apa yang disebutnya "campur tangan" dari Cina dan Rusia.
Beberapa hari lalu, kedua negara besar ini memang mengimbau Seoul agar tidak melaksanakan latihan itu.
Desakan domestik
Yang mengatakan pula bahwa faktor lain yang sangat penting adalah adanya dukungan besar di kalangan rakyat Korea Selatan sendiri terhadap pemerintah mereka.
"Sejak penenggelaman kapal perang Cheonan dan serangan terhadap pulau Yeonpyeong, masyarakat Korea Selatan sangat marah terhadap sikap pemerintah Korea Selatan yang dilihat diam saja," tambah Yang.
Ketika ditanyakan bagaimana suasana di kalangan masyarakat Korsel saat ini, Yang mengatakan bahwa masyarakat di negara itu sangat dinamis pada saat ini.
"Ada yang keras, ada yang lemah dan ada yang plin-plan.
"Menurut saya, ada sekitar 30% golongan yang kerjanya hanya mengkritik semua pemerintah, tidak saja pemerintah Lee Myun-bak. Siapa saja. Mereka itu anti-Korea Selatan, pro-Korea Utara," kata pakar masalah internasional yang cukup lancar berbahasa Indonesia itu.
Dia mengatakan, sekitar 60% lainnya orang Korea Selatan bersikap diam saja namun mereka sebenarnya mereka mendukung sikap keras pemerintah terhadap Korea Utara.





























