Cina akan tingkatkan anggaran militer

Waktu membaca: 2 menit

Naik hampir 13 persen

Cina berencana tambah anggaran militernya untuk tahun 2011.

Sumber gambar, 1

Keterangan gambar, Cina berencana tambah anggaran militernya untuk tahun 2011.

Pemerintah Cina akan meningkatkan anggaran pertahanannya hingga 12% yaitu mencapai US$91,5 miliar atau sekitar Rp 802 triliun pada tahun 2011.

Pengumuman ini muncul sehari sebelum kongres rakyat nasional yang biasa digunakan Partai Komunis Cina untuk memaparkan rencana pembangunan lima tahunnya.

Terus berkembangnya kekuatan militer Cina menimbulkan kekhawatiran negara-negara tetangga negeri Tirai Bambu itu.

"Modernisasi militer Cina, meningkatnya kegiatan militer Cina ditambah dengan ketidaktransparanan, merupakan kekhawatiran bagi kami," kata Sekretaris Kabinet Jepang, Yuki Edna.

Hubungan antara Cina dan Jepang sering diwarnai ketegangan apalagi kedua negara bersengketa atas kepemilikan pulau-pulau di selat sunda yang merupakan wilayah yang kaya minyak dan gas alam.

Tahun 2010, anggaran pertahanan Cina sudah melonjak sebesar 7,5 %.

"Faktanya adalah militer Cina terus bertambah kekuatannya," kata pengamat intelijen The Economist Duncan Innes-Ker.

"Dan kemampuan Cina untuk mengalahkan lawan-lawannya juga meningkat," tambah Innes-Ker.

Namun, kalangan pengamat mengatakan sangat kecil kemungkinan terjadinya konflik di kawasan tersebut.

Kenaikannya masih wajar

Angkatan Laut Tentara Rakyat Cina

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Cina saat ini sedang memperbaiki kemampuan Angkatan Lautnya

Jurubicara parlemen Cina mengatakan anggaran belanja militer itu relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara lain, tetapi wartawan BBC di Beijing mengatakan peningkatan ini akan mengkhawatirkan tetangga Cina, sementara banyak pengamat yakin anggaran sebenarnnya masih jauh lebih besar.

Pengamat militer kawasan Asia di lembaga pengkajian CSIS, Evan Laksamana menilai langkah ini sejalan dengan rencana militer Cina.

"Sebenarnya selama satu dekade tahun lebih, anggaran resmi militer Cina yang diumumkan selalu berkisar 9 hingga 12 persen. Jadi tidak luar biasa kali ini ya", kata Evan Laksamana kepada Helen Lumban Gaol sambil menambahkan bahwa banyak yang percaya dana sebenarnya yang dikeluarkan sekitar 20-30 persen dari yang diumumkan.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah besaran ini wajar untuk Cina?

Menurut Evan, dari segi kebutuhan militer Cina terutama untuk meningkatkan kapabilitas Angkatan Lautnya, jumlah ini wasih dalam batas kewajaran mengingat dana pembelian peralatan angkatan laut memang jauh lebih mahal.

"Tapi yang menjadi persoalan bukan persoalan besaran angka itu, namun belanjanya itu dipakai untuk apa?

Kekhawatiran yang ada di benak banyak pihak adalah kelengkapan militer yang dibelanjakan ini adalah guna mencegah Amerika Serikat ikut campur tangan di selat Taiwan atau untuk mencegah negara-negara yang berada dikawasan Laut Cina Selatan untuk mengganggu operasi militer Cina di kawasan.

"Dalam konteks itu bagi negara kawasan yang lebih mengkhawatirkan bukan besaran anggarannya tapi apa yang dibelanjakannya," tambah dia.

Melihat sikap Cina yang semakin asertif dalam memperlihatkan kemampuan militer serta Angkatan Lautnya, negara-negara Asean mengambil sikap yang berbeda-beda.

Bukan rahasia lagi, sikap Cina yang semakin terbuka memperlihatkan kekuatan militernya di Laut Cina Selatan membuat negara-negara tetangga khawatir dan mengandalkan kekuatan lama yaitu Amerika Serikat untuk menjadi penyeimbang.

Namun tidak semua negara Asean mengambil sikap yang sama. Vietnam misalnya memilih untuk membuka pelabuhannya dimasuki kapal Amerika.

Sikap Vietnam ini, kata Evan Laksamana dari CSIS jelas berangkat dari pendapat Vietnam merasa tidak bisa mengimbangi kekuatan militer Cina sehingga mereka butuh Amerika Serikat.

"Tetapi tidak semua negara seperti itu. Misalnya Indonesia, Indonesia tidak merasa perlu memilih satu diantara dua, condong pada Amerika atau Cina," tambah dia.

"Memang persepsi umum di Asean, kata dia yang penting adalah balance. Nggak boleh Amerika mendominasi atau Cina mendominasi."