Sekjen PBB kutuk serangan atas stafnya di Afghanistan

Serangan massa ke kantor PBB Mazar-i-Sharif

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Saksi mata menyebut serangan ini dilakukan oleh ratusan orang

Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki-moon, menyebut aksi serangan mematikan terhadap pekerja PBb di Afghanistan sebagai aksi brutal dan pengecut.

Sedikitnya 14 orang termasuk sejumlah pekerja PBB tewas, saat massa mendatangi gedung milik PBB di kota Mazar-i-Sharif, lalu membakarnya.

Menurut keterangan polisi, diantara korban terdapat dua orang yang tewas dipenggal.

Sementara menurut pejabat setempat, aksi demonstrasi dipicu oleh seruan seorang penceramah agama lokal yang mengajak warga berdemonstrasi setelah terjadi aksi pembakaran kitab suci Al Quran bulan lalu di hadapan seorang pastur Amerika di Florida, Terry Jones.

Meski demikian Pastur Jones membantah dirinya bertanggungjawab atas kekejian di Afghanistan ini.

Seruan Pastur Jones untuk membakar Quran sebagai peringatan tragedi 11 September telah menyulut kecaman dari seluruh dunia.

Serangan terburuk

Sementara menurut kantor berita AFP, kelompok Taliban langsung menyatakan bertanggungjawab atas aksi kekerasan ini.

Kantor berita itu menyebut aksi demonstrasi mematikan ini merupakan serangan terburuk terhadap badan PBB di Afghanistan sejak invasi pasukan AS tahun 2001 ke wilayah itu.

Korban pekerja PBB seluruhnya tujuh orang, mulanya dilaporkan delapan orang, seluruhnya warga non-Afghanistan.

Dan McNorton, juru bicara misi PBB di Afghanistan mengatakan: "Tiga pekerja Unama (Misi PBB untuk Afghanistan) tewas, sementara empat anggota pasukan pengaman bersenjata juga dibunuh."

Meskipun lembaga negara sedunia itu belum mengumumkan kewarganegaraan para korban, sejumlah negara sudah langsung menyatakan korban yang menjadi warganya.

Diantaranya adalah Joakim Dungel, seorang warga Swedia, Letnan Kolonel Pilot Siri Skare, seorang perempuan warga Norwegia, dan seorang warga Rumania.

Seorang petugas polisi lokal kepada BBC bahwa kota itu kini tenang setelah sejumlah orang ditahan.

Laporan sementara saksi mata menyebut ratusan orang menyerbu bangunan milik PBB itu, merebut senjata pengawal dan menembaki mereka lalu menyerbu ke dalam.

Mereka bersenjatakan senjata api dan pisau.

Presiden AS Barack Obama mengutuk serangan ini dengan menggunakan "ungkapan paling keras".