Libia kecam pengusiran diplomatnya dari London

Kedubes Libia di london
Keterangan gambar, Polisi memasuki Kedubes Libia di London hari Rabu (27/7) setelah diumumkan pengusiran.

Tripoli mengecam keputusan London mengakui kelompok perlawanan sebagai "satu-satunya otoritas pemerintahan" Libia, setelah langkah yang sama ditempuh Prancis dan AS.

Wakil Menteri Luar Negeri dibawah pemerintahan Gaddafi, Khaled Kaim, mengatakan pada wartawan sikap seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah diplomatik internasional dan menunjukkan sikap tak bertanggung jawab.

"Keputusan yang ilegal, tidak bertanggung jawab dan bagi kami sangat mengejutkan karena terjadi pada pemerintahan Inggris. Bagaimana kalau negara lain juga (mengikuti), maka kemudian diplomasi internasional pasti kacau balau," kata Kaim di Tripoli.

"Menurut saya keputusan ini mencoreng (kredibilitas) Inggris," tambahnya.

Libia bertekad membalikkan keputusan ini dengan melakukan gugatan di pengadilan Inggris dan internasional, tambahnya.

Inggris memutuskan mengusir seluruh diplomat dibawah Gaddafi yang berjumlah delapan orang dari negara itu.

Pejabat kepala misi diplomatik Libia di London, Khaled Benshaban, hanya diberi waktu tiga hari untuk berkemas sementara nasib diplomat Libia lainnya masih akan diputuskan "kasus per kasus", kata kantor Kementrian Luar Negeri Inggris.

Masih dikaji

Sementara Konsil Transisi Nasional (NTC), yang merupakan organisasi perlawanan terhadap Gaddafi, mengirim Mahmud Al-Naku, seorang penulis dan wartawan, sebagai duta besar Libia untuk London.

Kepada BBC Al-Naku mengatakan dirinya sudah mengasingkan diri selama 33 tahun akibat sikap oposisinya terhadap rezim Gaddafi.

Menlu Inggris William Hague mengatakan NTC telah menunjukkan komitmennya untuk sebuah "Libia yang terbuka dan demokratis... sangat berbeda dengan Gaddafi yang brutal terhadap rakyatnya dan menjadikannya kehilangan legitimasi".

Sikap serupa diambil AS dua pekan sebelumnya, dan dari informasi yang diperoleh BBC diketahui saat ini AS telah menerima "permintaan resmi" dari NTC untuk pembukaan kembali kedutaan besar mereka di Washington.

Menurut pejabat Kemenlu AS, permintaan itu "masih dikaji".

Sementara pertempuran terus berlangsung antara pasukan perlawanan dan tentara pro-Gaddafi, setelah berlangsung lima bulan sejak pecah aksi massa anti Gaddafi yang sudah memerintah selama 42 tahun.