Utusan AS berunding dengan perwakilan Gaddafi

Sumber gambar, AFP
Pejabat Kementerian Luar Negeri AS telah melakukan pembicaraan langsung dengan perwakilan pemerintahan Libia yang diutus Kolonel Muammar Gaddafi.
Pernyataan ini dibenarkan oleh Kementerian Luar Negeri AS yang menegaskan kembali tuntutan mundurnya Gaddafi dari pemerintahan, tanpa syarat.
Permintaan itu, menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri AS disampaikan lewat utusan Gaddafi dengan "jelas dan tegas".
"Pesannya sederhana dan tidak membingungkan (bahwa) Gaddafi harus lengser agar ada proses politik baru yang bisa berjalan dan memang itulah yang menjadi aspirasi dan kehendak rakyat Libia," demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri AS.
Sebaliknya seorang juru bicara pemerintah Libia mengatakan pihaknya mendukung adanya dialog dengan AS tetapi tanpa prasyarat apapun.
Pesan disampaikan
Meski demikian juru bicara pemerintah Libia, Moussa Ibrahim, tetap memandang pertemuan ini sebagai langkah penting dalam "memperbaiki hubungan" dengan AS.
"Kami dukung dialog apapun, upaya damai manapun asalkan masa depan Libia tidak ditentukan dengan syarat tertentu," kata Ibrahim pada wartawan di Tripoli.
"Kami akan membicarakan apapun tetapi menolak ada syarat terhadap upaya damai. Biarkan Libia sendiri yang menentukan masa depannya," tambahnya.
Tidak ada pejabat AS yang merinci dimana pembicaran dilakukan, namun pihak Libia mengatakan negosiasi dilangsungkan di sebuah lokasi di Tunisia yang bertetangga dengan Libia, Sabtu (16/7).
Belum ada agenda pembicaraan lanjutan, kata AS, karena "pesan sudah disampaikan".
Pasukan AS merupakan bagian dari aksi militer terhadap Libia sejak pada Maret lalu PBB meloloskan resolusi 1973, yang mengizinkan dilakukannya intervensi militer untuk melindungi warga sipil Libia yang menentang Gaddafi.
Pasukan AS menggempur habis-habisan titik-titik komando Gaddafi, namun kemudian kendali operasi diambil alih oleh NATO.
Senin (18/7) kelompok penentang Gaddafi mengatakan berhasil memukul mundur pasukan pemerintah setelah menguasai kembali sebagian besar kota Brega.
Klaim ini dibantah pemerintah Libia yang mengatakan kota kunci produsen minyak itu masih berada dalam genggaman Tripoli.





























