NATO-Arab bahas solusi Libia

Menlu AS Hillary Clinton dan Menlu Inggris William Hague berembuk di Turki

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Menlu AS Hillary Clinton dan Menlu Inggris William Hague berembuk di Turki

Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton berunding dengan diplomat NATO dan Arab di Istanbul, Turki untuk membahas kebijakan soal Libia.

Pertemuan keempat Kelompok Kontak Libia (LCG) sejak bulan Maret berlangsung di tengah harapan akan ada penyelesaian.

Menteri luar negeri Prancis Alain Juppe yang hadir dalam pertemuan di Turki mengatakan Paris telah mengadakan kontak dengan pejabat Libia.

Kontak tersebut dikatakan menyangkut kemungkinan Gaddafi lengser dari kekuasaan.

Menlu Inggris William Hague dan Menlu Italia Franco Frattini dalam pertemuan wakil 15 negara tersebut. Cina dan Rusia diundang, tapi mereka menolak hadir. Wakil pemberontak Libia juga hadir dalam pertemuan

Prancis memainkan peran penting dalam serangan NATO terhadap sasaran-sasaran di Libia yang dilancarkan atas mandat resolusi PBB yang menuntut warga sipil Libia dilindungi dari pasukan yang setia kepada Pemimpin Libia Gaddafi.

Pasukan Gaddafi menghadapi pemberontakan rakyat sekitar empat bulan terakhir.

Aksi militer NATO di Libia sendiri telah berjalan selama hampir empat bulan, namun rezim Gaddafi masih berkuasa.

'Pasca Gaddafi'

Pemberontak Libia sudah beberapa bulan mengangkat senjata melawan rezim addafi

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pemberontak Libia sudah beberapa bulan mengangkat senjata melawan rezim addafi

Seorang pejabat senior AS yang menyertai Menlu Hillary Clinton dikutip oleh Reuters mengatakan, ''Negara-negara tidak lagi melihat Gaddafi.''

''Dia akan pergi, dan pertemuan bisa menjadi tempat penting untuk melakukan evaluasi dan mempersiapkan transisi,'' katanya.

Pertemuan di Turki berlangsung ketika konflik di Libia tampak memasuki kebuntuan yang berlarut-larut.

Pemberontak anti-Gaddafi menguasai belahan timur Libia, dan beberapa kantung pertahanan di barat.

Kolonel Gaddafi tetap kokoh di ibukota Tripoli, meski NATO melancarkan lebih dari 6.000 misi pemboman udara terhadap pasukan rezimnya.

Sanksi internasional juga dijatuhkan terhadap rezim Gaddafi. Surat perintah penahanan internasional diterbitkan atas nama beberapa tokoh senior di jajaran rezim Gaddafi.

Di Tripoli, pemerintah Kolonel Gaddafi telah mengadakan pembicaraan krisis untuk membahas pasok bahan bakar di wilayahnya.

Setelah pertemuan tersebut Perdana Menteri Libia al-Baghdadi al-Mahmoudi mengisyaratkan berakhirnya investasi Italia senilai 30 milliar euro di negaranya dan mengajak mitra baru untuk ikut dalam eksplorasi dan pengolahan minyak mentah.

Di ibukota, antrian di beberapa pompa besin memanjang hingga lebih dari satu kilometer. Jalur pipa BBM utama ke kota dilaporkan diputus oleh kelompok pemberontak.