DK PBB bicarakan krisis terakhir Suriah

Asap mengepul dari kota Hama yang diserang militer Suriah. Foto diambil Minggu (31/7).

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Asap mengepul dari kota Hama yang diserang militer Suriah. Foto diambil Minggu (31/7).

Sejumlah negara Eropa mengajukan rancangan resolusi baru untuk mengutuk cara-cara kekerasan yang digunakan pemerintah Suriah menangani aksi unjuk rasa rakyatnya.

Senin (1/8) malam waktu New York, Wakil Kepala Departemen Politik PBB, Oscar Fernandez Taranco, menjelaskan situasi terakhir di Suriah, khususnya kota Hama, kepada Dewan Keamanan PBB.

Sebelumnya, Jerman meminta pertemuan tertutup setelah memperoleh informasi dari pegiat hak asasi manusia Suriah yang mengklaim tank-tank pemerintah Suriah sudah menewaskan puluhan warga sipil.

Sejauh ini, upaya praktis Dewan Keamanan terhadap kondisi Suriah masih terganjal perbedaan pendapat di antara 15 anggota lembaga itu.

Dua bulan lalu, negara-negara Eropa Barat telah menyampaikan usulan resolusi untuk Suriah, namun Rusia dan Cina - yang merupakan sekutu Damaskus- mengancam akan menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi itu.

Selain itu, beberapa anggota tidak tetap seperti Brasil, India, Lebanon dan Afrika Selatan juga menolak penerbitan resolusi Dewan Keamana untuk Suriah.

Beberapa negara ini khawatir pernyataan mengutuk sedikit apapun dari Dewan Keamanan akan menggiring sebuah aksi militer internasional seperti yang terjadi terhadap Libia.

Kondisi bisa berubah

Namun, Duta Besar Inggris untuk PBB, Mark Lyall Grant, mengatakan situasi bisa berubah setelah serangan tentara pemerintah Suriah ke Hama, mengakibatkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

"Saya melihat indikasi adanya perubahan posisi," kata Grant sambil menekankan Rusia sudah mengeluarkan pernyataan soal kekerasan di kota Hama.

Sementara itu, utusan Jerman, Miguel Berger, menyerukan anggota Dewan Keamanan yang masih ragu mendukung resolusi memikirkan kembali posisi mereka.

Sedangkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Mark Toner, menilai pentingnya Dewan Keamanan mengeluarkan resolusi untuk pemerintah Suriah.

"Kami berpendapat sangat penting jika Dewan Keamanan mengirimkan sebuah pesan yang kuat untuk Presiden Assad dan rezimnya," kata Toner.

Hama terus diserang

Sejak Juni lalu, kota Hama dikuasai kelompok penentang Presiden Bashar al-Assad.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sejak Juni lalu, kota Hama dikuasai kelompok penentang Presiden Bashar al-Assad.

Di kota Hama, pasukan pemerintah Suriah melanjutkan serangannnya dengan tembakan membabi buta hingga di penghujung hari pertama bulan Ramadhan.

Pegiat HAM Suriah mengklaim setidaknya 130 orang tewas sejak pemerintah menggelar operasi militer sejak Minggu (31/8), sebagian besar korban jatuh di kota Hama.

Saksi mata mengatakan tank-tank dan tentara terus menembak saat warga tengah menjalankan shalat tarawih pertama mereka.

"Bom meledak setiap 10 detik," kata seorang saksi lewat telepon kepada Reuters.

Kota Hama sejak Juni lalu dikuasai kelompok anti Presiden Bashar al-Assad. Pada 1982, kota ini juga menjadi pusat perlawanan terhadap Presiden Hafez al-Assad, ayah Presiden Suriah saat ini.

Pagiat HAM Suriah mengklaim 1.600-an orang tewas sejak unjuk rasa anti pemerintah merebak di Suriah beberapa bulan lalu.

Namun, angka ini sulit dikonfirmasi kebenarannya karena sulitnya akses wartawan internasional untuk masuk ke Suriah.