PBB: Suriah sasar pemberontak di Tremseh

Misi PBB di Suriah mengatakan pemerintah negara tersebut telah melakukan serangan ke desa Tremseh dengan sasaran utama tempat persembunyian kelompok pemberontak dan aktivis perlawanan di desa itu.
Mereka mengatakan dalam aksi serangannya pemerintah Suriah menggunakan senjata berat termasuk persenjataan artileri dan mortir.
Wartawan BBC, Jim Muir menilai laporan ini terlihat bertolak belakang dengan laporan sebelumnya yang menyebutkan adanya pembunuhan masal warga sipil di daerah itu.
Dia menilai laporan PBB ini justru segaris dengan klaim pemerintah Suriah yang menyebutkan sasaran serangan mereka adalah sarang dari kelompok pemberontak.
Juru Bicara PBB sendiri menyampaikan hal tersebut setelah menerima laporan dari peninjau yang mendatangi desa yang telah mengalami serangan pada hari Kamis (12/07) lalu itu.
Dalam laporannya mereka juga menyebutkan akibat serangan itu setidaknya ada 200 orang yang tewas.
PBB menilai aksi serangan yang dilakukan Suriah dengan menggunakan senjata berat kali ini merupakan bentuk pelanggaran komitmen yang sebelumnya mereka sepakati bersama Utusan Khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan.
Langgar komitmen
"Penggunaan senjata berat seperti artileri, mortir dan senjata ringan telah digunakan secara meluas," kata Juru Bicara PBB Sausan Ghosheh.
"Dalam serangan di Tremseh terlihat bahwa serangan itu diarahkan untuk menyasar rumah-rumah tertentu terutama tempat tinggal para pemberontak dan aktivis."
"Ada banyak genangan dan percikan darah disejumlah ruangan pada beberapa rumah serta terlihat juga banyak selongsong peluru bekas."
Para peninjau yang mengunjungi desa itu juga melihat adanya banguna sekolah yang dibakar.
Serangan terakhir pasukan Suriah yang menyasar desa Tremseh telah mengundang banyak kecaman dari dunia internasional.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan serangan tersebut menimbulkan ''keraguan yang mendalam'' atas komitmen Presiden Assad atas rencana perdamaian.
Ban Ki-moon meminta anggota PBB ''untuk mengambil aksi bersama dan tepat untuk secepatnya menghentikan tragedi yang berlangsung di Suriah''.
"Ketiadaan aksi menjadi sebuah lisensi untuk melakukan pembantaian lanjutan,'' katanya.
Sementara Menlu AS, Hillary Clinton menambahkan ''mereka yang melakukan kekejaman ini akan diidentifikasi dan harus bertanggung jawab.''
Kekerasan berlanjut
Namun Suriah bersikeras serangan mereka ke desa Tremseh merupakan serangan untuk menghadapi serangan pemberontak.
Suriah tampaknya juga tidak terpengaruh dengan tekanan dunia internasional, sejumlah aksi serangan dilaporkan masih terus berlanjut hingga Sabtu (14/07) waktu setempat.
Lembaga Pemantau HAM Suriah mengatakan ratusan tentara yang didukung helikopter bersenjata dilaporkan telah menyerang wilayah Khirbet Ghazaleh di Provinsi Deraa.

Sumber gambar, AP
Lembaga tersebut juga melaporkan sepanjang Sabtu kemarin ada 28 orang yang tewas di seluruh wilayah negara itu akibat serangan militer Suriah termasuk seorang perempuan yang tengah mengandung bayinya.
Sementara dalam serangan hari Jumat lalu korban tewas akibat serangan militer Suriah mencapai 118 orang.
Laporan jumlah korban ini memang sulit dikonfirmasi oleh media karena pemerintah Suriah sangat membatasi peliputan wartawan.
PBB saat ini masih terkunci dalam perdebatan tentang masa depan misi pengawas PBB di Suriah, yang akan berakhir 20 Juli.
Negara-negara Barat menginginkan sebuah ultimatum sepuluh hari untuk menghentikan kekerasan dengan ancaman sanksi jika tidak dipatuhi.
Ultimatum ini dimasukkan kedalam resolusi Dewan Keamanan PBB terkait masa depan misi pengawas.
Tapi permintaan tersebut tetap ditolak Cina dan Rusia yang berseberangan dengan setiap kebijakan untuk mengancam Damaskus dari sanksi lanjutan.





























