BRIN Ingatkan Bahaya Air Sinkhole Mengandung Bakteri dan Logam Berat
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, mengungkapkan bahwa air sinkhole yang terbentuk akibat runtuhan tanah ternyata mengandung bakteri dan logam berat berbahaya, sehingga tidak layak dikonsumsi tanpa analisis kimia.

Fenomena alam sinkhole atau lubang runtuhan tanah tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menyimpan potensi bahaya serius, terutama terkait kualitas air di dalamnya. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, telah mengungkapkan bahwa air yang terkumpul di dalam sinkhole mengandung bakteri dan sejumlah logam berat.
Pernyataan ini disampaikan melalui keterangan resmi di Jakarta pada Jumat, 16 Januari 2026, menyoroti risiko kesehatan yang mengintai masyarakat. Air tersebut, yang umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan, tidak serta merta layak untuk dikonsumsi.
Adrin Tohari menekankan pentingnya analisis kimia menyeluruh sebelum air sinkhole dianggap aman untuk penggunaan sehari-hari. Analisis ini mencakup pemeriksaan kejernihan, warna, bau, rasa, tingkat pH, keberadaan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta kandungan logam berat, sesuai dengan standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan.
Bahaya Kandungan Air Sinkhole
Air yang mengisi fenomena sinkhole seringkali menjadi perhatian karena penampakannya yang kadang jernih. Namun, BRIN mengingatkan bahwa kejernihan visual tidak menjamin keamanan air tersebut untuk dikonsumsi. Air ini merupakan campuran dari air hujan dan air tanah yang mengalir ke dalam rongga bawah permukaan, sehingga rentan terkontaminasi berbagai zat berbahaya.
Penelitian menunjukkan adanya kandungan bakteri patogen, seperti E. coli, yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan penyakit serius lainnya pada manusia. Selain itu, air sinkhole juga berpotensi mengandung logam berat yang berasal dari mineral batuan di sekitarnya atau kontaminasi dari aktivitas manusia.
Konsumsi air yang terkontaminasi bakteri dan logam berat tanpa pengolahan yang tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak memanfaatkan air dari sinkhole secara langsung, melainkan harus melalui proses analisis dan pengujian laboratorium yang ketat sesuai standar kesehatan.
Kawasan Rawan dan Tanda Peringatan Sinkhole
Adrin Tohari juga menggarisbawahi bahwa kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batugamping (limestone) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami fenomena sinkhole. Karakteristik batuan kapur yang mudah larut oleh air menjadikannya rentan membentuk rongga-rongga di bawah tanah.
Salah satu tanda peringatan dini yang perlu diwaspadai oleh masyarakat adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba. Kondisi ini bisa menjadi indikasi bahwa air telah meresap ke dalam rongga bawah tanah, yang berpotensi memicu runtuhan dan pembentukan sinkhole.
Pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan sinkhole diharapkan untuk lebih proaktif dalam memantau perubahan kondisi geologi di lingkungan mereka. Investigasi segera perlu dilakukan jika ditemukan tanda-tanda mencurigakan untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar.
Pencegahan dan Mitigasi Sinkhole dengan Rekayasa Geoteknik
Untuk mengantisipasi dan mencegah pembentukan sinkhole, pendekatan berbasis sains melalui rekayasa geoteknik sangat penting. Salah satu metode yang efektif adalah cement grouting. Metode ini melibatkan injeksi semen, mortar, atau bahan kimia tertentu ke dalam rongga di lapisan batugamping bawah permukaan.
Proses cement grouting dimulai dengan pemboran dari permukaan hingga kedalaman di mana rongga terdeteksi. Material grouting kemudian diinjeksikan melalui pipa injeksi menggunakan pompa bertekanan. Tekanan dan volume injeksi dipantau secara cermat untuk memastikan material mengisi rongga tanpa merusak struktur batuan sekitar.
Setelah proses injeksi, efektivitas grouting perlu dicek melalui uji permeabilitas atau pengujian geofisika lainnya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa rongga telah terisi penuh dan stabilitas lapisan batuan telah meningkat, sehingga risiko runtuhan dapat diminimalisir.
Imbauan untuk Masyarakat dan Pemerintah Daerah
BRIN berharap masyarakat dan pemerintah daerah di kawasan rawan sinkhole dapat meningkatkan kewaspadaan. Pemanfaatan kajian geologi dan survei geofisika sangat krusial sebagai dasar perencanaan tata ruang dan upaya mitigasi risiko bencana geologi.
Sebagai contoh, fenomena sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menunjukkan bagaimana masyarakat sempat memanfaatkan air dari lubang tersebut. Bahkan, beberapa warga mengaitkan air tersebut dengan khasiat penyembuhan.
Otoritas setempat telah melarang pemanfaatan air dari sinkhole tersebut untuk kebutuhan sehari-hari demi keselamatan masyarakat. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya edukasi publik dan penerapan kebijakan berbasis ilmiah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5158422/original/012721900_1741665141-kata-kata-untuk-stop-bullying.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475190/original/073855700_1768554990-TPA_Benowo_mengubah_sampah_menjadi_energi_listrik.jpeg)












