Cetak Sejarah! Pemda dan FKUB Mimika Raih Harmony Award Kemenag 2025, Jadi Inspirasi Kerukunan Nasional
Pemerintah Kabupaten Mimika dan FKUB setempat berhasil meraih Harmony Award Mimika 2025 dari Kemenag, mencetak sejarah sebagai wilayah Papua pertama yang diakui nasional. Simak bagaimana sinergi ini tercipta!

Kabupaten Mimika berhasil mencetak sejarah gemilang dalam upaya memelihara kerukunan umat beragama di Indonesia. Pemerintah Kabupaten Mimika bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat secara resmi menerima penghargaan bergengsi Harmony Award 2025 dari Kementerian Agama (Kemenag).
Penganugerahan ini bukan sekadar pengakuan biasa, melainkan sebuah tonggak penting bagi wilayah Papua secara keseluruhan. Ini adalah kali pertama bagi Papua meraih pengakuan nasional di bidang kerukunan umat beragama, menunjukkan komitmen kuat daerah tersebut dalam menjaga toleransi.
Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas dedikasi dan kerja keras Pemda serta FKUB Mimika dalam menciptakan suasana harmonis di tengah keberagaman. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia untuk terus memperkuat fondasi kerukunan antarumat beragama.
Mimika, Pelopor Kerukunan di Tanah Papua
Ketua FKUB Kabupaten Mimika, Jeffry Chris Hutagalung, mengungkapkan rasa bangganya atas capaian ini. Menurutnya, "Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Mimika, tetapi juga bagi wilayah Papua secara keseluruhan, karena ini kali pertama Papua meraih pengakuan nasional di bidang kerukunan umat beragama."
Harmony Award merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) RI. Penghargaan ini diberikan kepada pemerintah daerah dan FKUB yang telah terbukti berprestasi dalam memelihara kerukunan umat beragama di wilayahnya.
Penghargaan ini berfungsi sebagai instrumen penting untuk memperkuat upaya nasional dalam menjaga persatuan, toleransi, dan stabilitas sosial keagamaan di seluruh pelosok Indonesia. Mimika telah menunjukkan bagaimana sinergi yang baik dapat menghasilkan dampak positif yang signifikan.
Sinergi Kuat Pemda dan FKUB Mimika
Jeffry Chris Hutagalung menegaskan bahwa penganugerahan yang diraih secara bersamaan oleh Pemda dan FKUB Mimika menunjukkan kuatnya sinergi. Sinergi ini terjalin antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan para tokoh agama sebagai penjaga harmoni sosial di masyarakat.
Pemerintah Daerah Mimika selama ini konsisten dalam memperkuat fondasi kerukunan melalui berbagai dukungan. "Selama ini, Pemda Mimika konsisten memperkuat fondasi kerukunan melalui dukungan kebijakan yang jelas, komunikasi lintas sektor, serta fasilitas yang menunjang kegiatan FKUB," kata Jeffry.
Sementara itu, FKUB Mimika juga berperan aktif dalam memfasilitasi dialog lintas iman, memberikan edukasi tentang moderasi beragama, serta menyelesaikan berbagai isu sensitif. Pendekatan persuasif dan damai selalu menjadi prioritas dalam setiap penyelesaian masalah.
Kombinasi kinerja yang solid antara Pemda dan FKUB inilah yang menempatkan Mimika sebagai salah satu daerah dengan pengelolaan kerukunan terbaik di Indonesia. Mereka berhasil membuktikan bahwa kolaborasi adalah kunci utama dalam menjaga perdamaian dan toleransi.
Pesan Menteri Agama: Toleransi adalah Kunci Harmoni
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, turut menegaskan bahwa capaian harmoni nasional ini bukan hanya sebuah prestasi, melainkan amanah besar. Amanah ini harus dirawat bersama sebagai sebuah bangsa yang besar dan beragam.
“Tidak mungkin terwujud kerukunan tanpa harmoni, dan harmoni tidak mungkin terwujud tanpa kesediaan kita untuk menerima perbedaan,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam kesempatan tersebut. Pesan ini menekankan pentingnya keterbukaan dan penerimaan.
Nasaruddin menjelaskan bahwa toleransi bukanlah upaya untuk menyeragamkan yang berbeda atau memisahkan yang sama. Sebaliknya, toleransi adalah kemampuan untuk menjaga kemesraan dan persahabatan di tengah keberagaman yang ada dalam masyarakat.
Menag juga menekankan pentingnya proses pengindonesiaan ajaran agama, budaya lokal, serta pelokalan nilai keindonesiaan. Hal ini bertujuan agar identitas keagamaan dan kebangsaan dapat berjalan beriringan, menciptakan masyarakat yang utuh dan harmonis.
“Saya seratus persen Muslim, seratus persen Indonesia, dan seratus persen Bugis. Umat beragama lain juga dapat menjadi seratus persen beragama sekaligus seratus persen Indonesia. Jika filosofi ini kita pegang teguh, selamat tinggal konflik dan welcome harmoni,” pungkasnya, memberikan inspirasi tentang bagaimana identitas majemuk dapat hidup berdampingan.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475773/original/014572800_1768649118-Pesawat_ATR_42-500.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475771/original/088967700_1768649021-WhatsApp_Image_2026-01-17_at_18.10.18.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475762/original/037504600_1768647454-112529.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475758/original/042359500_1768646932-Pencarian_pesawat_ATR_hilang_kontak_di_Maros.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475744/original/094296200_1768646383-WhatsApp_Image_2026-01-17_at_16.55.59.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4732017/original/005456000_1706775183-000_347D8B7.jpg)


















