Masih Berkabung, Kerabat Minta Keraton Tak Bicarakan Pengganti Raja Surakarta
Terlebih saat ini masih dalam suasana berkabung, bahkan jenazah PB XIII belum dikebumikan.

Wafatnya Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sampeyandalem Ingkang Sinihun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) XIII, menimbulkan pertanyaan besar sejumlah kalangan.
Meski sebelum wafat PB XIII telah mengangkat putra bungsu KGPH Purbaya, atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibyo Rojoputro Nalendra ing Mataram sebagai Putra Mahkota, namun tak semua adik PB XIII memberikan restunya.
Seno Adjie, Kerabat Jarkarta Karaton Surakarta mengimbau agar semua keluarga keraton menjaga keharmonisan dan marwah adat Trah Mataram Surakarta. Terlebih saat ini masih dalam suasana berkabung, bahkan jenazah PB XIII belum dikebumikan.
"Sejak tahun 2004, hingga berbagai momentum penting pada 2017, 2022, 2024, dan kini menjelang 2026, upaya menjaga keharmonisan internal Keraton Surakarta Hadiningrat terus dilakukan sebagai bagian dari pelestarian adat dan budaya Trah Mataram Surakarta," ujar Seno yang juga adik musisi asal Solo Setyawan Jodi.
"Sebagai pihak yang sejak lama dipercaya menjadi penengah dalam dinamika internal keluarga besar Keraton, saya menegaskan kembali bahwa posisi saya tetap berada di tengah. Saya tidak berpihak pada salah satu kubu manapun. Hal ini telah diketahui dan disaksikan langsung oleh para pihak di lingkungan Keraton Surakarta," ungkapnya.
Beri Masukan ke Keraton
Seno menyampaikan, kedatangannya ke Keraton Surakarta adalah untuk memberikan masukan agar, menjelang upacara pemakaman yang akan digelar Rabu besok, seluruh pihak menjaga suasana tetap kondusif.
"Saya mengimbau agar selama masa sebelum 40 hari, tidak ada pernyataan-pernyataan publik yang dapat menimbulkan situasi yang tidak harmonis," tandasnya.
Fokus utama yang harus dilakukan saat ini, menurut dia, adalah memastikan prosesi pemakaman berjalan dengan tertib, lancar, dan penuh penghormatan.
Titik Awal Membangkitkan Marwah
"Saya juga mengingatkan kepada para Gusti dan seluruh keluarga besar agar prosesi ini menjadi bukti bahwa Keraton Surakarta tetap menjadi tonggak utama budaya dan adat Jawa, khususnya Trah Mataram Surakarta, yang terus menjaga tatanan adat-istiadatnya dengan penuh kewibawaan," katanya.
"Selain itu, dengan hormat saya menyampaikan agar aparat pemerintahan maupun pihak luar tidak turut mencampuri urusan internal keluarga besar Keraton Surakarta. Hal ini merupakan ranah keluarga yang sedang diupayakan untuk dikomunikasikan dan diselaraskan secara baik, arif, dan bermartabat," imbuhnya.
Ia berharap momentum ini menjadi titik awal bagi kebangkitan kembali marwah dan kejayaan Keraton Surakarta di era PB XIV, sehingga Keraton Surakarta dapat kembali menjadi pusat adat, budaya, dan peradaban Jawa yang sejati.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523436/original/088155600_1772816651-1001064690.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)























