Pasar Obligasi Tetap Solid Saat IHSG Cetak Rekor
Di tengah lonjakan IHSG, pasar surat utang Indonesia tetap kuat. Outstanding obligasi jumbo dan dominasi SBN menopang stabilitas keuangan nasional.

Di tengah reli pasar saham yang mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi bursa ke rekor tertinggi, pasar surat utang Indonesia menunjukkan ketahanan yang tetap solid.
Aktivitas penerbitan obligasi, besaran outstanding, serta dominasi Surat Berharga Negara (SBN) menegaskan peran penting pasar pendapatan tetap dalam sistem keuangan nasional.
Mengacu pada keterangan Bursa Efek Indonesia (BEI), selama periode 12–15 Januari 2026 terdapat satu pencatatan obligasi korporasi baru di papan bursa. Instrumen tersebut adalah Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2025 yang diterbitkan oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk dengan nilai pokok Rp 1,5 triliun.
Obligasi tersebut memperoleh peringkat idAA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia, yang mencerminkan kualitas kredit yang kuat dan tingkat kepercayaan investor terhadap kinerja serta prospek emiten.
Outstanding Obligasi dan Sukuk Tetap Besar
Secara kumulatif, sepanjang 2026 hingga pertengahan Januari, telah tercatat tujuh emisi obligasi dan sukuk dari enam emiten dengan total nilai Rp 218,90 triliun. Sementara itu, total instrumen obligasi dan sukuk yang beredar di BEI mencapai 665 emisi.
Nilai outstanding obligasi dan sukuk tersebut tercatat sebesar Rp 542,85 triliun serta USD 134,01 juta, yang diterbitkan oleh 137 emiten. Data ini menunjukkan bahwa pasar surat utang masih menjadi salah satu sumber pendanaan utama bagi korporasi dan institusi, meskipun minat investor terhadap saham meningkat signifikan.
SBN Masih Dominasi Pasar Pendapatan Tetap
Selain obligasi korporasi, SBN tetap menjadi komponen terbesar di pasar surat utang Indonesia. Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat 190 seri SBN yang diperdagangkan di BEI dengan nilai nominal mencapai Rp 6.484,29 triliun dan USD 352,10 juta.
Di luar SBN, BEI juga mencatat keberadaan instrumen lain seperti Efek Beragun Aset (EBA) dengan nilai Rp 3,99 triliun. Komposisi ini mencerminkan kedalaman pasar pendapatan tetap nasional, yang berfungsi sebagai penyeimbang di tengah volatilitas dan euforia pasar saham.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476072/original/065129500_1768710117-WhatsApp_Image_2026-01-18_at_11.02.55.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4781409/original/067008100_1711104260-IMG-20240322-WA0035.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476010/original/040103700_1768705613-IMG_20260118_091900.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475944/original/046795200_1768703011-116193.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4706398/original/039666800_1704367377-20240104-Banjir_Kemang_Utara-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5187168/original/083476600_1744683863-1.jpg)























