Jokowi Bisa Bawa PSI Berjaya? Belum Tentu
Djayadi membocorkan survei terbaru pihaknya tentang elektabilitas Jokowi.

Pilihan Joko Widodo (Jokowi) akan bergabung dengan partai politik masih menjadi misteri. Awalnya, Jokowi disebut segera gabung Golkar setelah berkonflik dengan PDIP. Namun, belakangan, kini dikaitkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Diketahui, saat ini PSI dipimpin oleh putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep.Lalu, apakah sosok Jokowi mampu membawa nama PSI berjaya di kancah politik Indonesia?
Dikutip dari diskusi yang digelar CNN, Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengungkap fakta menarik. Menurut dia, elektabilitas Jokowi kini tinggal dua persen saja.
Djayadi membocorkan survei terbaru pihaknya tentang elektabilitas Jokowi. Tapi, survei ini bukan untuk mengecek siapa yang bakal dipilih responden, tapi ingin ngecek ketokohan seseorang itu masih berpengaruh atau tidak.
“Di Oktober sama Desember 2015, setahun, bahkan lebih setahun dari turunya Pak SBY, elektabilitas top of mind Pak SBY masih di kisaran 4-5%,” terang Djayadi dalam diskusi itu.
Belum Tentu Bikin PSI Berjaya
Sementara, terjadi perbedaan yang sangat drastis ketika hal yang sama dilakukan kepada Jokowi. Bahkan, survei dilakukan tak lama setelah Jokowi turun takhta sebagai presiden Indonesia.
“Pak Jokowi sekarang baru 4-5 bulan selesai, sudah 2% saja,” kata Djayadi.
Meskipun, popularitas Jokowi masih tinggi. Namun survei tersebut menyatakan bahwa elektabilitas menunjukkan seberapa banyak orang yang masih betul-betul belum move on dari tokoh yang diidolakan.
“Jadi kalau berharap bahwa ketokohan Pak Jokowi akan lebih besar dibandingkan dengan ketika dia menjadi presiden, minimal saya mengatakan, cek dulu lagi, belum tentu,” kata Djayadi lagi.
Beda Versi SMRC
Pandangan yang berbeda disampaikan oleh Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad. Menurut dia, Jokowi masih cukup populer. Dengan modal itu, Jokowi dianggap masih mampu memimpin PSI.
“Kehadiran seorang tokoh yang populer pada partai seperti PSI, menurut saya, penting untuk PSI. Salah satu tradisi dalam politik kepartaian di Indonesia adalah adanya figur populer,” kata Saidiman saat dihubungi merdeka.com.
Saidiman menambahkan, selama ini PSI sudah berusaha membangun kedekatan politik dengan Jokowi. Dengan bergabungnya Jokowi, kata dia, tentu ini akan mempermudah partai membangun branding politik untuk lebih menarik massa loyalis Jokowi.
“Para loyalis Jokowi juga bisa lebih jelas menentukan arah politik mereka,” kata Saidiman.
Logistik PSI
Dia yakin, jika Jokowi bergabung, PSI potensial mendapatkan tambahan suara pada pemilu berikutnya. Tentu dengan syarat, terang Saidiman, kerja-kerja sosialisasi terus dilakukan.
Sementara perihal biaya operasional partai yang sangat besar, Saidiman mengakui, itu menjadi tantangan tersendiri bagi Jokowi yang bukan berlatarbelakang pengusaha.
“Ya, soal biaya selalu menjadi persoalan klasik semua partai. Justru kehadiran tokoh populer seperti Jokowi, PSI memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pendanaan politik, baik dari Jokowi maupun dari individu yang simpatik pada Jokowi,” tutup Saidiman.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/4848901/original/076050200_1717138481-IMG20240531104427.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477505/original/010719300_1768833274-Prabowo_Mahasiswa_Papua.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477503/original/080786400_1768831286-Bocah_lima_tahun_asal_Sukabumi_jago_matematika.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477497/original/032473000_1768829852-Prabowo_Rapat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477493/original/012138900_1768829400-Rektor_nonaktif_UNM_Karta_Jayadi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477488/original/030082500_1768828543-Mapolres_Kudus.jpeg)























