Bukan Karena Alien, Ini Alasan NASA Baru Kirim Manusia ke Bulan Setelah 54 Tahun
Usai persaingan dengan Uni Soviet menang, AS merasa tidak ada motivasi untuk melakukan pengiriman manusia kembali ke Bulan.

Sudah lebih dari setengah abad berlalu sejak Eugene Cernan, astronaut Apollo 17, meninggalkan Bulan pada tahun 1972.
Sejak saat itu, belum ada lagi manusia yang kembali menjejakkan kaki di sana. Padahal, teknologi di saku celana kita hari ini jauh lebih canggih dibandingkan komputer navigasi yang membawa Neil Armstrong mendarat.
Absennya manusia di Bulan selama lima dekade ini sering kali memicu teori konspirasi liar, mulai dari keberadaan markas alien hingga tuduhan pendaratan palsu. Namun, realitasnya jauh lebih pragmatis.
Alasan utama NASA tidak pernah kembali bukan karena makhluk asing, melainkan karena pergeseran prioritas politik dan kendala anggaran yang mencekik setelah Perang Dingin usai.
Ketika misi Apollo berakhir, Amerika Serikat merasa telah memenangkan perlombaan antariksa melawan Uni Soviet.
Motivasi politik yang tadinya menggebu-gebu mendadak lenyap. Tanpa lawan tanding, pemerintah AS enggan menggelontorkan dana besar-besaran hanya untuk mengulang pencapaian yang sama.
Fokus NASA pun dialihkan ke orbit rendah Bumi dengan mengembangkan pesawat ulang-alik (Space Shuttle) dan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Adu Mahal Anggaran: Apollo 1972 vs Artemis 2026
Anggaran selalu menjadi tembok penghalang terbesar dalam eksplorasi luar angkasa. Jika membandingkan dompet NASA di era kejayaan Apollo dengan era Artemis saat ini, terlihat perbedaan yang sangat mencolok.
Melansir BBC, program Apollo adalah proyek ambisius yang menelan biaya sekitar USD25,8 miliar pada masanya. Jumlah ini sangat fantastis karena saat itu AS mengalokasikan hampir 5 persen dari total anggaran belanja negaranya demi gengsi mengalahkan Uni Soviet.
Sementara itu, program Artemis yang menargetkan pendaratan kembali pada tahun 2026 memiliki struktur biaya yang berbeda.
Laporan dari Space.com menyebutkan bahwa NASA diperkirakan menghabiskan dana sebesar USD93 miliar untuk program ini dalam rentang waktu tahun 2012 hingga 2025.
Meskipun total angkanya terlihat lebih kecil dibanding Apollo, biaya operasional Artemis justru mendapat sorotan tajam.
Auditor negara memperkirakan biaya untuk satu kali peluncuran roket SLS dan kapsul Orion bisa mencapai USD4,1 miliar.
Angka per peluncuran ini dinilai "tidak berkelanjutan" untuk sebuah program jangka panjang, mengingat NASA kini tidak lagi memiliki cek kosong dari pemerintah seperti di era 1960-an.
Artemis Misi Baru
Kini, setelah 50 tahun berlalu, NASA akhirnya memutuskan untuk kembali lewat misi Artemis III yang dijadwalkan pada 2026. Alasan kembalinya mereka pun telah berubah total. Jika dulu tujuannya hanya datang dan menancapkan bendera, misi kali ini adalah untuk menetap.
Penemuan cadangan es air di Kutub Selatan Bulan menjadi motivasi utama. Air ini bisa diolah menjadi air minum, oksigen, hingga bahan bakar roket.
Bulan tidak lagi dilihat sebagai destinasi akhir, melainkan sebagai batu loncatan atau "pom bensin" untuk misi yang lebih jauh dan ambisius, yakni mengirim manusia ke Planet Mars.
Selain itu, kebangkitan program luar angkasa Tiongkok yang agresif juga menjadi pemicu baru bagi AS untuk segera kembali mengamankan dominasinya di tetangga terdekat Bumi tersebut.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/4732017/original/005456000_1706775183-000_347D8B7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469168/original/095352500_1768083462-000_92B72MK.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475693/original/008495600_1768641306-IMG_6770.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)



















