Cara Astronot “Membunuh” Rasa Bosan dan Kerinduan dengan Keluarga di Bumi
Kejenuhan dan rasa rindu kepada keluarga jadi "hantu" bagi astronot saat di stasiun ruang angkasa.

Tidak bisa dimungkiri, kejenuhan di stasiun ruang angkasa (ISS) menjadi tantangan bagi astronot. Terlebih waktu yang dihabiskan di ruang terbatas itu begitu panjang. Bisa berbulan-bulan. Lantas, bagaimana cara astronot membunuh rasa kebosanan?
Mengutip Space & TechRadar, Rabu (21/8), penelitian dari NASA menunjukkan bahwa dukungan sosial antarsesama kru adalah hal paling efektif. Jika ada konflik di dalam pesawat, percakapan dengan kru lainnya akan membantu. Namun jika seseorang merindukan anak atau pasangannya, hal yang paling menenangkan adalah bisa berbicara langsung dengannya.
Untungnya, di dalam ISS, telepon protokol internet (IP) digunakan secara teratur untuk menghubungkan astronot dengan teman dan keluarga mereka. Mereka bisa bercerita tentang kondisinya saat ini dan pengalamannya di ISS. Banyak astronot juga berpendapat bahwa berbagi video, melakukan eksperimen, dan membuat video musik di luar angkasa untuk media sosial juga dapat melawan perasaan terisolasi.
Ketika penerbangan menjadi lebih lama, kesepian dan kerinduan akan “kampung halaman” kemungkinan akan menjadi masalah yang lebih besar – terutama karena adanya penundaan yang lebih lama antara komunikasi dari Bumi, yang bisa memakan waktu 45 menit atau lebih dari satu jam. Salah satu pilihannya adalah menggunakan realitas virtual untuk membantu astronot merasa tenang dan lebih terhubung dengan kehidupan di kampung halaman.
Program Penelitian Manusia (HRP) NASA menyarankan untuk menambahkan “jendela virtual ke jendela sebenarnya untuk menggantikan pandangan Bumi yang hilang” atau menggunakan teknologi VR untuk menciptakan lingkungan, bersama dengan tanaman sebenarnya, agar astronot dapat melihat pemandangan alam yang familier.
Virtual Reality
VR Mental Care, sebuah investigasi dari Badan Antariksa Eropa (ESA), menggunakan teknologi realitas virtual bagi astronot untuk melakukan simulasi berada di lingkungan yang berbeda. Lingkungan 360 derajat mencakup video dan suara, dan ditindaklanjuti dengan kuesioner untuk menilai bagaimana perasaan para astronot saat menggunakan teknologi tersebut.
“Selain membantu astronot, alat ini bisa digunakan untuk mengatasi masalah psikologis seperti stres, kecemasan, dan gangguan stres pasca trauma di Bumi,” tulis perwakilan NASA.
Astronot ESA Andreas Mogensen, salah satu peserta penelitian, sebelumnya mengatakan kepada Space.com betapa dia menikmati penggunaan VR untuk aplikasi seperti olahraga, pada sepeda stasioner.
“Ini benar-benar membuat perbedaan. Ada sesuatu ketika Anda melihat diri Anda bersepeda mendaki bukit dengan headset realitas virtual; Anda hanya memiliki motivasi lebih untuk mengayuh sedikit lebih keras,” kata Mogensen.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475773/original/014572800_1768649118-Pesawat_ATR_42-500.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475771/original/088967700_1768649021-WhatsApp_Image_2026-01-17_at_18.10.18.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475762/original/037504600_1768647454-112529.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475758/original/042359500_1768646932-Pencarian_pesawat_ATR_hilang_kontak_di_Maros.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475744/original/094296200_1768646383-WhatsApp_Image_2026-01-17_at_16.55.59.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4732017/original/005456000_1706775183-000_347D8B7.jpg)



















