Hal Pertama yang Dirasakan Tubuh saat Menginjakkan Kaki di Bulan
Namun, meskipun pencapaian itu monumental, pendaratan di bulan bukanlah hal yang mudah.

Bulan, satelit alami Bumi yang telah lama memikat rasa ingin tahu umat manusia, akhirnya menjadi tempat yang dapat dijangkau oleh kaki manusia berkat misi Apollo 11 pada 1969. Namun, meskipun pencapaian itu monumental, pendaratan di bulan bukanlah hal yang mudah.
Proses ini menuntut tubuh manusia untuk menghadapi berbagai tantangan biologis dan fisik yang tidak dapat dijumpai di Bumi. Apa yang terjadi pada tubuh kita ketika melangkah pertama kali di permukaan bulan?
Gravitasi Rendah: Efek Jangka Pendek pada Tubuh
Salah satu perubahan paling mencolok yang terjadi pada tubuh manusia saat mendarat di bulan adalah efek gravitasi rendah, yang hanya sekitar 1/6 dari gravitasi Bumi. Hal ini menyebabkan astronaut merasa jauh lebih ringan daripada biasanya. Setiap langkah terasa lebih lambat dan melambung karena tubuh tidak dibebani oleh tarikan gravitasi yang sama seperti di Bumi.
Meskipun ini memungkinkan astronaut untuk melompat lebih tinggi, efek jangka pendeknya bisa membuat tubuh menjadi kesulitan menyesuaikan diri dengan gerakan tersebut.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh NASA selama misi Apollo, para astronaut sering melaporkan bahwa mereka merasa seperti "terbang" atau melayang saat bergerak di permukaan bulan, karena otot dan sendi mereka tidak terbiasa dengan beban yang jauh lebih ringan (NASA, 1972). Otak dan tubuh butuh waktu untuk menyesuaikan sinyal-sinyal motorik yang diproses oleh sistem saraf pusat, yang mempengaruhi kontrol gerakan mereka.
Otot dan Tulang: Pengaruh Gravitas yang Lemah
Karena gravitasi di bulan sangat lemah, tubuh manusia tidak perlu bekerja keras untuk mendukungnya. Namun, ini dapat menyebabkan beberapa masalah dalam jangka panjang, terutama bagi otot dan tulang. Di Bumi, tubuh kita terbiasa dengan tarikan gravitasi yang mengharuskan otot dan tulang untuk bekerja lebih keras. Ketika berada di bulan, otot-otot tubuh, terutama yang digunakan untuk berdiri, berjalan, dan bergerak tidak lagi menerima beban yang sama.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Physiology pada tahun 2015 menunjukkan bahwa dalam kondisi mikrogravitasi atau gravitasi rendah, massa otot bisa berkurang hingga 20% dalam waktu singkat (Smith et al., 2015). Para astronaut Apollo melaporkan kekakuan otot setelah kembali ke Bumi dan menjalani terapi fisik intensif untuk mengembalikan kekuatan otot dan kepadatan tulang mereka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gravitasi bulan lebih rendah, tubuh manusia tetap memerlukan latihan fisik yang konsisten agar tetap sehat.
Perubahan Sirkulasi Darah: Dampak dari Kehilangan Gaya Gravitasi
Gravitasi rendah di bulan juga mempengaruhi cara darah bersirkulasi dalam tubuh. Di Bumi, gravitasi menarik darah ke bawah, khususnya ke kaki dan bagian bawah tubuh. Namun, saat berada di bulan, sirkulasi darah menjadi lebih seimbang, menyebabkan cairan tubuh, termasuk darah, bergerak lebih mudah ke bagian atas tubuh. Banyak astronaut melaporkan rasa tekanan atau pusing setelah mendarat di bulan, karena tubuh mereka harus beradaptasi dengan distribusi cairan yang berbeda. Ini juga berkontribusi pada perubahan dalam pernapasan dan pengaturan detak jantung.
Penelitian yang dilakukan oleh NASA pada misi Apollo menunjukkan bahwa perubahan distribusi cairan tubuh ini dapat menyebabkan pembengkakan di wajah dan leher, serta penurunan volume darah di kaki (Cohen et al., 1972). Para ilmuwan juga menemukan bahwa dalam jangka panjang, tubuh manusia dapat mengalami pengaturan sistem sirkulasi yang berubah secara permanen jika paparan terhadap gravitasi rendah berlangsung terlalu lama.
Radiasi Kosmik: Bahaya yang Mengintai
Meski berada di bulan tidak memberikan atmosfer pelindung seperti Bumi, para astronaut yang mendarat di bulan menghadapi risiko paparan radiasi kosmik yang lebih besar. Tanpa lapisan atmosfer atau medan magnet yang melindungi kita dari radiasi ini, tubuh manusia lebih rentan terhadap dampak berbahaya dari radiasi matahari dan radiasi galaksi yang lebih kuat. Meskipun baju ruang angkasa yang dirancang dengan cermat dapat memberikan perlindungan, risiko jangka panjang terhadap kesehatan, seperti peningkatan peluang terkena kanker atau kerusakan jaringan tubuh, tetap ada.Studi oleh NASA’s Space Radiation Analysis Group (2017) mengungkapkan bahwa paparan radiasi kosmik dapat meningkatkan risiko kerusakan sel, mutasi genetik, dan kanker dalam jangka panjang, meskipun tingkat radiasi yang diterima astronaut dalam misi Apollo relatif rendah.
Meskipun sistem perlindungan ruang angkasa yang canggih dapat memitigasi risiko ini, paparan terhadap radiasi luar angkasa tetap menjadi masalah besar bagi misi jangka panjang ke bulan dan Mars.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482441/original/024948900_1769210307-1001544126.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482440/original/041593200_1769209602-154379.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482439/original/097662000_1769208475-IMG-20260124-WA0005.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482423/original/007306000_1769187020-1000017452.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481427/original/032187300_1769130251-WhatsApp_Image_2026-01-23_at_08.01.58.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482422/original/066428100_1769187014-IMG-20260123-WA0194.jpg)
















