Teleskop James Webb Deteksi Keberadaan Air di Luar Angkasa
Temuan terbaru ini mendukung pandangan bahwa air bisa jadi merupakan komponen fundamental dalam proses pembentukan planet.

Teleskop luar angkasa milik NASA, James Webb Space Telescope (JWST), telah berhasil menemukan keberadaan air di sekitar bintang muda yang dikenal sebagai HD 181327. Para ilmuwan telah lama berkeyakinan bahwa es dapat ditemukan secara luas di tata surya kita, baik dalam bentuk komet, asteroid, maupun di kutub planet-planet.
Temuan terbaru ini semakin memperkuat pandangan bahwa air kemungkinan merupakan elemen yang umum dalam proses pembentukan planet. Menurut laporan dari SciTechDaily pada Kamis (29/05/2025), teleskop James Webb mampu mendeteksi es air dalam bentuk kristalin, yang merupakan bentuk padat dari H2O.
Es tersebut teridentifikasi di dalam cincin debu yang mengelilingi bintang muda HD 181327, yang berjarak sekitar 155 tahun cahaya dari Bumi. Para peneliti memanfaatkan instrumen canggih yang disebut Near-Infrared Spectrograph (NIRSpec) untuk mendeteksi spektrum cahaya dari molekul tertentu, termasuk air dalam bentuk es.
Sebelumnya, bintang HD 181327 telah memberikan indikasi adanya es sejak tahun 2008 melalui pengamatan yang dilakukan oleh teleskop Spitzer. Namun, dengan kemampuan resolusi tinggi yang dimiliki oleh James Webb, para ilmuwan kini dapat memastikan keberadaan es dan memetakan distribusinya secara akurat.
Cincin es yang ditemukan di sekitar bintang muda ini memiliki kesamaan dengan struktur Sabuk Kuiper di tata surya kita, bahkan bisa dibandingkan dengan cincin Saturnus. Namun, yang lebih menarik adalah kenyataan bahwa es tersebut tidak muncul dalam bentuk murni, melainkan tercampur dengan debu halus, membentuk partikel kecil yang dikenal sebagai "bola salju kotor" (dirty snowballs).
Es yang ada pada bintang ini memiliki kemiripan dengan komposisi inti komet yang ada di tata surya kita. Penemuan ini memberikan wawasan penting mengenai bagaimana sistem planet terbentuk dan bagaimana air, yang merupakan unsur vital bagi kehidupan, dapat berpindah ke planet-planet berbatu seperti Bumi.
Es dan debu yang terdapat dalam piringan sisa pembentukan bintang dapat bersatu untuk membentuk batuan, yang kemudian menjadi planetesimal dan pada akhirnya membentuk planet. Pengamatan yang dilakukan oleh JWST menunjukkan adanya celah besar antara bintang dan cincin debu, menyerupai struktur yang ada di Sabuk Kuiper. Hal ini memberikan indikasi bahwa mungkin terdapat planet yang telah terbentuk dan berhasil membersihkan jalurnya dari debu serta es.
Distribusi es yang teramati juga menunjukkan ketidakmerataan. Konsentrasi tertinggi es, yaitu lebih dari 20 persen, terletak di bagian paling luar cincin, di mana suhu sangat rendah sehingga es dapat tetap stabil. Sebaliknya, di bagian tengah, kandungan es menurun hingga sekitar 8 persen, dan di dekat bintang, es hampir tidak terdeteksi. Penyebabnya mungkin adalah radiasi ultraviolet yang kuat dari bintang yang dapat menguapkan es, atau es tersebut terperangkap dalam objek besar yang tidak dapat dijangkau oleh instrumen teleskop.
Bukti yang menunjukkan adanya es air dalam sistem bintang muda ini memberikan peluang besar untuk lebih memahami proses pembentukan planet serta distribusi air di seluruh galaksi. Jika es air dapat ditemukan secara luas di sekitar bintang lainnya, maka ada kemungkinan besar bahwa kondisi serupa Bumi dapat terbentuk di banyak lokasi lain di alam semesta. (Tifani)





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)

















