Harga Minyak Naik Seiring Kekhawatiran Pasokan dari Iran
Kenaikan harga minyak dunia di awal pekan dipicu oleh ketegangan di Iran serta kemungkinan kembalinya ekspor dari Venezuela.

Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin, dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi berkurangnya pasokan dari Iran. Negara tersebut menghadapi tekanan internal menyusul penindakan terhadap aksi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, yang dikhawatirkan berdampak pada ekspor minyaknya.
Di sisi lain, harapan akan bertambahnya pasokan global dari Venezuela sesama anggota OPEC yang masih berada di bawah sanksi belum cukup menahan laju kenaikan harga. Sentimen risiko pasokan tetap mendominasi pergerakan pasar, sehingga harga minyak mentah bergerak di zona positif.
Sesuai dengan laporan dari CNBC pada Selasa (13/11), harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan sebesar 67 sen atau 1,1%, mencapai USD 64,01 per barel. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga menguat sebesar 38 sen atau 0,6%, dan ditutup pada level USD 59,50 per barel.
Pada hari yang sama, pemerintah Iran mengungkapkan bahwa mereka tetap membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat (AS), di saat Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan berbagai respons terhadap tindakan mematikan yang dilakukan selama aksi protes nasional.
Gelombang protes ini dianggap sebagai salah satu tantangan paling signifikan bagi pemerintahan ulama Iran sejak terjadinya Revolusi Islam pada tahun 1979. Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump dijadwalkan untuk bertemu dengan para penasihat seniornya pada hari Selasa untuk membahas berbagai opsi kebijakan terkait situasi di Iran.
Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan di Iran tidak hanya berdampak pada kondisi domestik, tetapi juga berpotensi mempengaruhi hubungan internasional, terutama dengan negara-negara pengimpor minyak.
Venezuela Siap Lanjutkan Ekspor

Venezuela diperkirakan akan segera melanjutkan ekspor minyak setelah kejatuhan Presiden Nicolas Maduro. Menurut pernyataan Trump pekan lalu, pemerintah di Caracas siap untuk menyerahkan hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi Barat kepada Amerika Serikat.
Hal ini memicu persaingan di antara perusahaan-perusahaan minyak untuk mencari kapal tanker dan mempersiapkan operasi pengapalan minyak mentah dengan cara yang aman. Empat sumber yang mengetahui proses ini mengungkapkan bahwa aktivitas persiapan telah dimulai.
Dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih pada hari Jumat, perusahaan komoditas multinasional Trafigura mengungkapkan bahwa kapal pertama mereka diperkirakan akan mulai memuat minyak pada minggu depan.
Risiko Akibat Gangguan Pasokan Global

Para pelaku pasar kini memperhatikan adanya risiko gangguan pasokan dari Rusia, yang terjadi setelah serangan Ukraina yang menyasar fasilitas energi. Selain itu, ada juga kemungkinan sanksi energi yang lebih ketat dari AS terhadap Moskow. Di sisi lain, Kementerian Energi Azerbaijan melaporkan bahwa ekspor minyak mereka diperkirakan akan menurun menjadi 23,1 juta ton pada tahun 2025, dibandingkan dengan 24,4 juta ton pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan adanya penurunan yang signifikan dalam produksi minyak negara tersebut.
Rusia dan Azerbaijan adalah bagian dari OPEC+, yang merupakan aliansi antara negara-negara OPEC dan produsen minyak lainnya. Sementara itu, pemerintah Norwegia berencana untuk mengajukan dokumen kebijakan kepada parlemen pada tahun depan mengenai masa depan industri minyak dan gas.
Ini termasuk pembahasan mengenai akses perusahaan terhadap wilayah eksplorasi. Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Stoere, menegaskan bahwa "Industri minyak dan gas sangat penting bagi Norwegia dan harus dikembangkan, bukan dihentikan," dalam sebuah pidato yang disampaikan baru-baru ini.
Di sisi lain, Goldman Sachs, bank investasi asal AS, memprediksi bahwa harga minyak mungkin akan melemah tahun ini. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya pasokan baru yang dapat menciptakan surplus di pasar. Meskipun demikian, risiko geopolitik yang melibatkan negara-negara seperti Rusia, Venezuela, dan Iran tetap dianggap akan memicu volatilitas harga minyak di pasar global.
Keputusan The Fed Dinanti Pasar

Pemerintahan Trump dari Amerika Serikat kembali mengeluarkan kritik terhadap Federal Reserve (The Fed), yang semakin menambah kekhawatiran pasar mengenai independensi bank sentral. Pemerintah AS mengancam akan menjerat Ketua The Fed, Jerome Powell, terkait kesaksiannya di Kongres mengenai proyek renovasi gedung, yang oleh Powell disebut sebagai "dalih" untuk memperbesar pengaruh terhadap kebijakan suku bunga.
Sejak menjabat setahun lalu, Trump terus mendesak Powell untuk memangkas suku bunga secara agresif. Suku bunga yang lebih rendah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan minyak karena biaya konsumsi menjadi lebih terjangkau.
Namun, kebijakan ini juga dianggap dapat menyulitkan bank sentral dalam mengatasi kemungkinan lonjakan inflasi di masa mendatang. Penting untuk dicatat bahwa bank sentral biasanya menaikkan atau menurunkan suku bunga untuk menjaga inflasi tetap dalam batas yang terkendali.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)























