Kurs Rupiah Nyaris Sentuh Level Rp17.000 per USD, Ternyata Ini Penyebabnya
Adapun faktor yang mempengaruhi pelemahan Rupiah yakni, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa ia akan memberlakukan tarif baru pada 8 negara Eropa.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat nilai tukar atau kurs Rupiah terus melemah nyaris menyentuh Rp17.000 per USD atau tepatnya saat ini berada di level Rp16.955 pada penutupan perdagangan sore ini.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang Rupiah ditutup melemah 68 poin sebelumnya sempat melemah 75 poin di level Rp16.955 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.896," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (19/1).
Adapun faktor yang mempengaruhi pelemahan Rupiah yakni, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa ia akan memberlakukan tarif baru pada 8 negara Eropa yang menentang rencananya agar Amerika Serikat mengakuisisi Greenland.
Trump mengatakan, AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari, dengan tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
"Negara-negara yang menjadi target termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, bersama dengan beberapa negara Nordik dan Eropa utara. Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas," ujarnya.
Selain itu, data di AS menunjukkan pasar tenaga kerja tidak selemah yang diperkirakan. Oleh karena itu, para pedagang menjadi ragu-ragu apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.
Kontrak Berjangka Fed
Selain itu, kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April.
"Pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," ujarnya.
Di sisi lain, di Asia, data pada hari Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen tahun lalu, memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global barang yang mencapai rekor untuk mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.
Faktor Internal
Di dalam negeri, yang mempengaruhi pelemahan Rupiah yakni, demi mendukung agenda pertumbuhan Presiden Prabowo Subianto di tahun 2029 sebesar 8 persen, maka pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang lebih besar, yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap Rupiah.
Selain itu, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3 persen, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang Rupiah.
"Walaupun, Bank Indonesia melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan. Bank Indonesia secara rutin melakukan pembelaan terhadap Rupiah. baik di pasar DNDF maupun pasar NDF. Namun, toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut," pungkasnya.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481050/original/073182400_1769075263-Gubernur_Jawa_Barat_Dedi_Mulyadi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482219/original/007426100_1769166267-151825.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/thumbnails/5482187/original/003592700_1769164394-20260123-prabowo-pegang-dada-akui-sedih-meski-rakyat-indonesia-disebut-paling-bahagia-di-dunia-aa88c9.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461750/original/074970100_1767439018-Mariano_Peralta.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/826798/original/006051700_1426131169-1842092shutterstock-175158260780x390.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5446599/original/095862000_1765926998-188666.jpg)




















