Rupiah Diproyeksi Makin Loyo di Level Rp16.780
Pada perdagangan Selasa (6/1) mata uang rupiah ditutup melemah 18 point,

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah akan fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp 16.750 hingga Rp 16.780.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.750 - Rp 16.780," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (7/1/2026).
Adapun pada perdagangan Selasa (6/1) mata uang rupiah ditutup melemah 18 point, sebelumnya sempat melemah 35 poin dilevel Rp 16.758 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.740.
Lebih lanjut, Ibrahim mengungkapkan sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Untuk faktor eksternal yakni Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, dilantik sebagai presiden sementara pada hari Senin (5/1).
"Meskipun ia menyampaikan dukungan untuk Maduro, tidak jelas apakah ia berencana untuk menentang intervensi AS. Laporan pada hari Senin menunjukkan bahwa intelijen AS memandang Rodriguez sebagai orang yang paling tepat untuk memimpin pemerintahan sementara," ujarnya.
Di sisi lain, pada hari Senin, Maduro menyatakan tidak bersalah atas tuduhan AS terkait distribusi narkotika. Munyo, yang muncul di pengadilan New York beberapa hari setelah penangkapannya di Caracas oleh pasukan AS, mengatakan bahwa ia tidak bersalah dan bahwa ia masih presiden Venezuela.
Penangkapan Maduro, yang menurut Presiden AS Donald Trump dilakukan tanpa persetujuan Kongres, mengejutkan pasar global minggu ini. Trump mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara Venezuela dan membuka industri minyak negara itu, mengundang perusahaan minyak besar Amerika untuk berinvestasi di negara tersebut.
Data Ekonomi AS
Sementara itu, data ekonomi AS mengungkapkan bahwa bisnis manufaktur terus menunjukkan prospek yang suram. Indeks PMI Manufaktur ISM AS untuk Desember 2025 turun menjadi 47,9, meleset dari perkiraan 48,3 dan turun dari 48,2 pada November.
"Hal ini menandakan penurunan lebih lanjut dalam aktivitas manufaktur. Angka tersebut menandai bulan kontraksi kesepuluh berturut-turut dan menggarisbawahi pelemahan yang terus-menerus di sektor ini," ujarnya.
Selain itu, komentar dari Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari yang tetap bersikap hawkish, mengatakan bahwa inflasi tetap terlalu tinggi, menambahkan bahwa kebijakan moneter sekarang lebih dekat ke posisi netral. Ia juga menggambarkan pasar tenaga kerja berada dalam lingkungan "perekrutan rendah, pemecatan rendah", menunjukkan perputaran yang terbatas daripada penurunan yang nyata.
Faktor Internal
Sementara itu, dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta yang menyebut inflasi di Jakarta sepanjang 2025 terkendali di angka 2,63% dari target 2,5%, +/- 1. Adapun, penyumbang angka inflasi yang masih didominasi oleh sektor makanan, minuman dan tembakau.
Inflasi year-on-year (yoy) atau tahun ke tahun terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga sejumlah kelompok pengeluaran. Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) tersebut, yaitu dari 105,69 pada Desember 2024 menjadi 108,47 pada Desember 2025.
"Inflasi yoy itu terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga sejumlah kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,67%. Kemudian, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,56 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga sebesar 3,22%," pungkasnya.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)























