Rupiah Menguat Tipis di Level Rp16.631
Rupiah ditutup menguat tipis di level Rp16.631 per dolar AS, dipengaruhi kebijakan The Fed dan stabilitas ekonomi domestik yang tetap solid.

Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan Jumat (31/10), di level Rp16.631 per dolar AS, naik 4 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp16.636.
Menurut pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah sempat mencapai 25 poin sebelum terkoreksi di akhir sesi.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.630–Rp16.680,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (31/10).
The Fed dan Pertemuan AS–Tiongkok Pengaruhi Sentimen Pasar

Ibrahim menjelaskan, penguatan tipis rupiah dipengaruhi oleh keputusan Federal Reserve (The Fed). Mereka memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, dari sebelumnya ke kisaran 3,75 persen–4,00 persen.
Namun, komentar Ketua The Fed Jerome Powell dinilai menahan optimisme pasar setelah menyebut bahwa pemangkasan suku bunga lanjutan masih belum pasti.
“Ketua Jerome Powell mengisyaratkan ketidakpastian tentang pemangkasan lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa langkah di bulan Desember masih jauh dari kepastian. Komentarnya mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS lebih tinggi,” ujar Ibrahim.
Selain itu, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping turut mempengaruhi pergerakan pasar. Meski keduanya sepakat memangkas tarif 10 persen atas impor terkait fentanil, para analis menilai belum ada tanda-tanda signifikan penurunan hambatan perdagangan.
“Trump juga menepis kemungkinan sanksi terhadap Tiongkok atas pembelian minyak Rusia, yang menandakan sedikit gangguan pada pasokan global,” tambahnya.
Ekonomi Asia dan Domestik Penopang Stabilitas Rupiah

Ibrahim menyebutkan, aktivitas manufaktur Tiongkok yang menyusut selama tujuh bulan berturut-turut menekan sentimen di kawasan Asia.
“PMI komposit Tiongkok juga hampir berubah negatif pada bulan Oktober, karena bisnis lokal bergulat dengan belanja swasta yang lesu dan tarif ekspor AS yang tinggi,” katanya.
Sementara dari dalam negeri, kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 tercatat 5,12% (yoy) dengan inflasi tetap terkendali di level 2,65% (yoy) pada September 2025.
“Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 115, menandakan masyarakat masih berada dalam zona optimis,” kata Ibrahim.
Selain itu, Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 5,8% (yoy), investasi langsung mencapai Rp1.434 triliun sepanjang Januari–September 2025, dan neraca perdagangan tetap surplus USD29,14 miliar.
Ibrahim menambahkan, reformasi struktural melalui PP Nomor 28 Tahun 2025 diharapkan dapat mempercepat kemudahan berusaha serta memperkuat daya saing ekonomi nasional.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482923/original/084488100_1769287691-virgil_van_dijk_semangat_bournemouth_liverpool_ap_ian_walton.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5322252/original/039243200_1755738000-taa.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485727/original/030145200_1769526863-IMG-20260127-WA0073.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484783/original/018265600_1769484757-1000162338.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485621/original/068828500_1769516121-Foto_2.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5392751/original/035250300_1761511473-eric_garcia_real_madrid_vs_barcelona.jpg)


















