Terungkap, Penyebab Rupiah Menguat Tipis di Level Rp16.684
Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp16.687.

Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 3 poin pada perdagangan sore ini di level Rp16.684 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 30 poin. Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp16.687.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.680 – Rp16.730,” kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Rabu (24/9).
Geopolitik dan Kebijakan The Fed
Ibrahim menjelaskan, penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi ketegangan geopolitik global yang mendukung sentimen pasar terkait risiko pasokan energi.
Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menegaskan, negara-negara NATO harus menembak jatuh pesawat Rusia jika melanggar wilayah udara aliansi. Ia juga menyatakan Ukraina berpeluang merebut kembali seluruh wilayahnya dari Rusia.
“Pernyataan tersebut menandai perubahan retorika yang tajam dalam sikap Washington dan dianggap meningkatkan risiko sanksi lebih lanjut terhadap ekspor energi Rusia, yang dapat menekan pasokan global,” ujarnya.
Selain itu, laporan Bloomberg mengungkapkan otoritas Rusia sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel akibat serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap fasilitas energi.
Dari sisi moneter, Ketua The Fed Jerome Powell menyoroti tantangan menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan risiko ketenagakerjaan.
Sementara Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menyebut ada ruang untuk menurunkan suku bunga jika inflasi terus menurun, meski mengingatkan agar tidak terburu-buru.
Pasar pun memperkirakan masih ada dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun, Powell belum memberi sinyal jelas mengenai waktu pelaksanaan, sehingga membuat pasar cenderung berhati-hati.
Optimisme OECD
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh OECD.
Organisasi tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan menjadi 4,9 persen pada 2025 dan 2026, lebih tinggi dibanding laporan Juni 2025.
“Pelonggaran kebijakan moneter memberi ruang lebih pada aktivitas ekonomi. Sementara itu, investasi publik yang kuat menopang pembangunan infrastruktur, serta konsumsi domestik yang tangguh dan tetap menjadi motor penggerak utama,” ujar Ibrahim.
OECD juga memperkirakan rebound investasi akan mendukung momentum pertumbuhan di tengah perlambatan global. Namun, mereka mengingatkan risiko perlambatan perdagangan internasional dapat menekan kinerja ekspor Indonesia.
Tekanan inflasi juga diprediksi meningkat, dari 1,9 persen pada 2025 menjadi 2,7 persen pada 2026, seiring pelemahan kurs rupiah yang berkelanjutan.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481050/original/073182400_1769075263-Gubernur_Jawa_Barat_Dedi_Mulyadi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482219/original/007426100_1769166267-151825.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/thumbnails/5482187/original/003592700_1769164394-20260123-prabowo-pegang-dada-akui-sedih-meski-rakyat-indonesia-disebut-paling-bahagia-di-dunia-aa88c9.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461750/original/074970100_1767439018-Mariano_Peralta.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/826798/original/006051700_1426131169-1842092shutterstock-175158260780x390.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5446599/original/095862000_1765926998-188666.jpg)



















