Mesir laksanakan referendum

Sumber gambar, AP
Antrian panjang dilaporkan terjadi di luar tempat-tempat pemungutan suara di Mesir dalam referendum untuk amandemen konstitusi yang diselenggarakan oleh Dewan Militer.
Bagi sebagian besar warga Mesir, selama hidup mereka baru kali ini mereka benar-bebar memberikan suara secara bebas dan bagi banyak lainnya, baru kali ini mereka mau meluangkan waktu untuk memberikan suara.
Rakyat terbelah mengenai apakah mereka akan menyetujui amandemen konstitusi atau tidak.
Namun kebanggaan karena berhasil menggusur Presiden Mubarak dari kekuasaan bulan lalu dirasakan oleh jutaan warga Mesir, dan mereka yang antri di luar tempat-tempat pemungutan suara di Kairo juga merasakan kebanggaan serupa atas perwujudan demokrasi pertama pada era setelah Mubarak ini.
"Saya benar-benar merasa senang, sangat senang. Untuk pertama kalinya saya merasa suara saya bisa membawa perubahan. Saya merasa sangat bahagia hari ini. Ini pertama kalinya saya memberikan suara, baru kali ini saya memilih dan saya merasa sangat bangga melihat banyak orang yang datang hari ini.
"Saya tidak pernah mengira saya akan melihat hal seperti ini dalam hidup saya."
Amandemen konstitusi ini akan membatasi presiden untuk hanya bisa menjabat dua kali, akan membuat lebih sulit bagi mereka untuk menyatakan keadaan darurat seperti yang dilakukan Presiden Mubarak dalam pemerintahannya selama 30 tahun dan untuk meningkatkan keadilan dalam pemilihan.
Kelompok yang menentang mengatakan amandemen ini belum cukup jauh dan bahwa jadual pemilihan yang akan segera dilakukan oleh militer akan merugikan partai-partai politik baru.





























