Pertempuran sengit pecah dekat Tripoli

Pemberontak Libia terus merangsek maju menuju ibukota Tripoli.
Keterangan gambar, Pemberontak Libia terus merangsek maju menuju ibukota Tripoli.

Pasukan pemberontak terlibat pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah di kawasan pegunungan sekitar 80km di sebelah selatan ibukota, Tripoli.

Wartawan BBC Mark Doyle yang berada di desa Bir Ayad -sebuah lokasi strategis menuju Tripoli- melaporkan pertempuran pecah ketika pasukan pemerintah mencoba menyerang pemberontak dari belakang.

Pasukan pemberontak, tambah Doyle, datang dari pegunungan Nafusa, awal Juni dan mereka kini terus maju menuju gerbang kota Tripoli.

Namun, mereka mendapat perlawanan sengit dari pasukan yang setia kepada Kolonel Moammar Gaddafi.

Pasukan pemberontak kini tengah mengkonsolidasikan kekuatannya di pegunungan sebelah barat Tripoli. Garis depan pertempuran kini bergeser dari Bir Ayad ke dekat kota Bir al-Ghanam.

Wartawan kantor berita AFP yang berada di dekat Bir al-Gharam mendengar suara tembakan roket dan senapan mesin.

Juru bicara pemberontak, Guma el-Gamaty, kepada kantor berita AP mengatakan Bir al-Ghanam memiliki nilai strategis penting karena terletak hanya 30km dari Zawiya, gerbang barat Tripoli.

Pasukan pemberontak sempat menguasai Zawiya, Maret lalu sebelum pasukan pemerintah memukul mundur mereka dari kota pengolahan minyak itu.

Menteri Pertahanan pemberontak, Jalal al-Dhgeli, kepada BBC mengatakan serangan harus dilakukan dari pegunungan barat Tripoli karena persenjataan mereka sangat minim.

Namun, tak lama lagi serangan bisa dilakukan dari kota Brega di sebelah timur Tripoli.

"Kami memperoleh informasi dari para pembelot bahwa kekuatan pendukung Gaddafi semakin sedikit. Orang-orang yang pernah dekat kini meninggalkannya," kata Dhgeli.

Tawaran pemilu

Sementara itu, pada Minggu (26/6), pemerintah Libia memperbaharui tawaran digelarnya pemilu meski tetap menegaskan Gaddafi tidak akan turun dari kekuasaannya.

Gaddafi sendiri dilaporkan sepakat tidak terlibat dalam proses pembicaraan untuk mencari cara menghentikan konflik ini.

Juru bicara Gaddafi, Moussa Ibrahim kepada sejumlah wartawan di Tripoli mengatakan pemerintah menawarkan peride dialog nasional serta pemilu yang diawasi PBB dan Uni Afrika.

"Jika rakyat Libia menginginkan Gaddafi pergi, maka dia akan pergi," kata Ibrahim seperti dikutip Reuters.

Namun, lanjut Ibrahim, Gaddafi yang berkuasa sejak kudeta 1969 menegaskan tidak akan tinggal di pengasingan.

Gagasan menggelar pemilu pertama kali dilontarkan salah satu putra Gaddafi, Saif al-Islam awal bulan ini.

Sementara itu, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma yang bertemu Gaddafi bulan lalu di Tripoli mengulangi kritiknya atas serangan udara NATO.

"Korban tewas warga sipil bisa jadi diakibatkan serangan udara ini. Dan berbagai infrastruktur rusak berat," kata Zuma dari Pretoria.