Turki akui pemberontrak Libia

Sumber gambar, AP
Turki menjadi salah satu negara yang akhirnya memberi pengakuan terhadap keberadaan kelompok pemberontak yang tergabung dalam Dewan Transisi Nasional, TNC, sebagai perwakilan resmi rakyat Libia.
Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, mengatakaan sudah saatnya bagi pemimpin Libia saat ini, Kolonel Muammar Gaddafi untuk meninggalkan jabatannya.
Turki sebelumnya telah menjanjikan bantuan sebesar US$200 juta kepada kelompok pemberontak di Libia, ini merupakan bantuan tambahan setelah pada bulan lalu mereka mengumumkan bantuan serupa sebesar US$100 juta.
Dalam perkembangan lainnya, kelompok pemberontak telah menolak usulan Uni Afrika untuk membuka pembicaraan dengan pemerintah berkuasa di Tripoli.
"Kami telah menolak usulan itu. Usulan dialog itu tidak menyertakan soal kepergian Gaddafi, putranya dan orang-orang di lingkaran terdekatnya," kata Jurubicara kelompok pemberontak, Abdel Hafiz Ghoga.
Namun Ketua TNC, Mustafa Abdul Jalil, mengindikasikan bahwa kepergian Gaddafi dari Libia tidak mutlak.
Menurutnya Gaddafi bisa tinggal di Libia asalkan dia menyerahkan seluruh kekuasannya.
"Sebagai sebuah solusi damai, kami menawarkan dia bisa mundur dari jabatannya dan memerintahkan pasukannya untuk mundur dari barak dan posisi mereka saat ini. Akan ada supervisi dari dunia internasional untuk mengawasi semua langkahnya itu," kata Jalil kepada Reuters.
"Kalau dia ingin tinggal di Libia, kami yang akan menentukan tempatnya dan itu akan dibawah supervisi dunia internasional."
Solusi permanen
Menlu Turki, Ahmet Davutoglu, menyampaikan dukungannya kepada pemberontak Libia sesaat setelah dia bertemu dengan Jalil di Benghazi, daerah kekuasaan utama para pemberontak di wialayah timur Libia.
"Permintaan warga Libia untuk melakukan reformasi harus segera dijawab, Gaddafi harus pergi dan Libia tidak boleh terpecah," kata Davutoglu.
"Saya berada di sini untuk menyampaikan solidaritas kepada warga Libia. Hak mereka harus segera diwujudkan, harus ada solusi permanen bagi krisis ini, dan itu hanya mungkin dicapai melalui solusi politik yang didasarkan pada permintaan warga Libia."
"Kami melihat bahwa TNC merupakan perwakilan yang sah dari warga Libia untuk mencapai tujuan mereka."
Wartawan menilai kunjungan ini menunjukan perubahan arah kebijakan Turki dalam mendukung pasukan pemberontak Libia.
Sebelumnya Turki yang merupakan kekuatan kunci regional dan juga anggota NATO sempat menolak aksi serangan yang dilakukan oleh negara barat ke sejumlah fasilitas militer pemerintah Libia.
Turki tampaknya memang memiliki kepentingan terhadap kepastian masa depan Libia, sejumlah perusahaan Turki diketahui terlibat dalam beberapa proyek pembangunan di Libia bernilai miliran dollar Amerika sebelum akhirnya konflik meletus di Libia pada Februari lalu.
Di tempat terpisah pemerintah Rusia mengatakan bahwa krisis di Libia akan menjadi salah satu hal kunci yang diagendakan dalam diskusi dengan NATO hari ini (4/7).
Selain perwakilan dari NATO, pertemuan ini juga dihadiri oleh Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma.
Rusia merupakan salah satu negara yang mengkritik aksi serangan di NATO di Libia.





























