Kekerasan dalam pemilihan Yaman tewaskan delapan orang

Salah seorang peraih Nobel Perdamaian 2011, Tawakul Karman

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Salah seorang peraih Nobel Perdamaian 2011, Tawakul Karman, memberikan suara.

Sedikitnya delapan tentara tewas di Yaman pada hari pemungutan suara dalam pemilihan presiden untuk menggantikan Ali Abdullah Saleh.

Korban tewas akibat kekerasan di beberapa tempat pemungutan suara di bagian selatan negara itu, tempat kelompok pemberontak yang menamakan diri Gerakan Selatan menyerukan boikot atas pemilihan.

Aparat keamanan sebenarnya dikerahkan secara khusus di wilayah Yaman selatan namun kekerasan tetap saja berlangsung.

Pihak berwenang mengatakan kepada BBC bahwa empat tentara tewas di tempat pemungutan suara di Provinsi Hadramaut, dua lagi tewas di kota pelabuhan Aden, dan dua tentara lainnya terbunuh di kawasan Al-Hawta.

Namun di ibukota Sanaa, pemungutan suara berlangsung aman tanpa insiden kekerasan.

Wartawan BBC di Sanaa, Rupert Wingfield-Hayes, melaporkan para warga dengan semangat dan tertib antre untuk memberikan suara.

Pemilihan ini berfungsi sebagai pengesahan saja karena satu-satunya calon dalam pemilihan adalah Wakil Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi.

Sejumlah tantangan

Pemilihan umum untuk memilih presiden baru ini terlaksana setahun setelah unjuk rasa massal antipemerintah berhasil menekan Presiden Ali Abdullah Saleh untuk mengundurkan diri jika presiden baru terpilih.

Para pengunjuk rasa yang memulai aksi sejak Januari tahun lalu umumnya merupakan pendukung Wakil Presiden Mansour Hadi, yang berasal dari Yaman selatan. Dia sudah menyerukan agar digelar dialog dengan kelompok pemberontak Gerakan Selatan.

Pegiat hak asasi Tawakkol Karman -yang merupakan salah seorang peraih Nobel Perdamaian 2011- mengatakan pemungutan suara menandai berakhirnya rezim Presiden Saleh yang sudah berkuasan selama 33 tahun.

"Hari ini kami membangun Yaman yang baru, kami membangun demokrasi dan Yaman yang gembira yang pernah diimpikan oleh semua kaum muda dan perempuan," tuturnya.

Bagaimanapun Yaman masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain pemberontakan di sejumlah kawasan maupun aksi kelompok militan yang punya kaitan dengan al Qaida, serta kekurangan gizi yang meluas di kalangan anak-anak Yaman.

Presiden yang terpilih akan berkuasa selama dua tahun sebelum digelar pemilihan presiden dan parlemen yang baru.