Gerak maju pasukan Suriah ke pusat kota Hama

Sumber gambar, Reuters
Pasukan Suriah, Selasa 2 Agustus, kembali meneruskan serangan mereka dan mendesak maju ke pusat kota Hama walau sudah jatuh korban jiwa pada hari sebelumnya.
Penduduk kota itu mengatakan kepada BBC banyak yang sudah meninggalkan kota itu menuju kampung-kampung di sekitar karena yakin tentara akan mengendalikan kota itu sepenuhnya.
Seorang pegiat yang tinggal di Hama, Omar Hamawi, mengatakan kepada kantor berita AP bahwa satu unit yang terdiri dari delapan tank dan beberapa kendaraan lapis baja sudah mengambil posisi di dekat rumah-rumah dan bangunan lain di Lapangan Kazo.
Dia menambahkan bahwa pasukan juga dikerahkan di bagian timur kota dan di sekitar rumah tahanan utama Hama.
Sementara itu rekaman video telepon genggam yang memperlihatkan tank-tank tentara Suriah melepas tembakan mulai bermunculan di situs jejaring sosial.
Namun stasiun TV negara menyiarkan rekaman video lain -yang juga diambil dengan menggunakan telepon tangan- yang memperlihatkan pengunjuk rasa anti pemerintah membawa pistol, tongkat pemukul, pisau sementara seseorang menggunakan jaket berisi amunisi sambil membawa senapan mesin AK47.
Korban berjatuhan
Ketua lembaga Pengamat Hak Asasi Manusia, Rami Abdul Rahman, mengatakan 24 orang tewas di seluruh Suriah, Senin 1 Agustus.
Sepuluh diantaranya tewas di Rama sementara enam lainnya di kawasan ibukota Damaskus, dan tiga lainnya di Homs.
Dua korban jiwa lainnya jatuh di Albu Kamal -termasuk seorang anak berusia 13 tahun- dan dua orang tewas di Latakia sedangkan satu lagi di Maadamiyah dekat Damaskus.
Adapun jumlah korban sejak Minggu, diperkirakan mencapai 140 jiwa dan sebagian besar di Hama.
Namun jumlah korban jiwa tersebut belum bisa dikukuhkan karena wartawan asing tidak diperkenankan masuk ke Suriah.
Pemerintah Suriah sudah berjanji akan menempuh reformasi dan mengatakan pasukan mereka diserang oleh kelompok bersenjata yang mendapat dukungan dari kekuatan asing.
Daftar hitam
Krisis Suriah ini akan kembali dibahas oleh Dewan Keamanan dan Rusia masih belum bersedia menyepakati sebuah resolusi yang mengutuk kekerasan di negara itu walau sudah memberikan indikasi akan mendukung pernyataan yang lebih lunak.
Sementara Uni Eropa menambahkan lima anggota pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dalam daftar hitam pemimpin Suriah yang dilarang bepergian dan dibekukan asetnya.
Lima daftar baru itu antara lain adalah Menteri Pertahanan, Ali Habib, dan Kepala Badan Intelijen Militer, Mohammed Mufleh serta Kepala Keamanan Dalam Negeri, Jenderal Tawfiq Yunis.
Adapun Italia menarik mundur duta besar untuk Suriah dengan menyebutkan alasan 'tekanan yang mengerikan' atas pengunjuk rasa.
Pemerintah Italia juga meminta agar negara-negara anghota Uni Eropa lainnya melakukan tindakan yang sama namun Spanyol, Inggris, dan Belgia menyatakan tidak ada rencana untuk penarikan mundur duta besar dari Suriah.





























