Bukan Sekadar Kebetulan, Timnas Indonesia Sering Terpuruk Saat Ditangani Pelatih Asing
Trofi juara malah sering datang ketika Timnas dipimpin pelatih lokal.

Selama bertahun-tahun, Timnas Indonesia kerap menggantungkan harapan pada sentuhan pelatih asing. Pengalaman internasional serta disiplin ala Eropa atau Amerika Latin diyakini mampu mengangkat prestasi skuad Garuda ke level lebih tinggi.
Namun realitas di lapangan justru berkata lain. Alih-alih panen trofi, Timnas Indonesia lebih sering menemui jalan terjal, sementara momen-momen kejayaan justru kerap hadir saat kemudi tim berada di tangan pelatih lokal.
Dari sekian banyak pelatih asing yang pernah menangani Tim Garuda, hanya Anatoli Polosin yang mampu memberikan gelar juara. Sementara itu, pelatih-pelatih asing lainnya gagal memenuhi harapan para penggemar sepak bola di Tanah Air.
Menariknya, dua pelatih lokal berhasil menciptakan sejarah dengan mempersembahkan medali emas di SEA Games. Hal ini menunjukkan pelatih lokal memiliki pemahaman yang lebih baik tentang karakter, mental, dan gaya bermain pemain Indonesia.
Mereka mampu membentuk tim yang solid dengan semangat juang yang tinggi, bukan hanya mengandalkan strategi yang tertulis di atas kertas. Keberhasilan ini telah terbukti melalui prestasi tiga pelatih yang berbeda dalam ajang olahraga terbesar di Asia Tenggara.
Tiga sosok tersebut adalah Bertje Matulapelwa, Anatoli Polosin, dan Indra Sjafri, yang masing-masing memiliki perjalanan perjuangan yang unik namun berhasil membawa Timnas Indonesia meraih kejayaan di SEA Games.
Bertje Matulapelwa: Emas Pertama di Rumah Sendiri

Bertje Matulapelwa menjadi pelatih pertama yang membawa Indonesia meraih medali emas SEA Games. Prestasi itu diraih pada edisi 1987, saat pesta olahraga Asia Tenggara tersebut digelar di Jakarta.
Perjalanan Timnas Indonesia di SEA Games 1987 tidak selalu mulus. Bertje berhasil membawa skuad Merah-Putih lolos ke semifinal sebagai runner-up Grup B. Namun, semangat dan disiplin tinggi membuat mereka tampil luar biasa di fase gugur.
Pada semifinal, Indonesia menghantam Burma (kini Myanmar) dengan skor 4-1. Di partai puncak, gol tunggal Ribut Waidi di menit ke-91 memastikan kemenangan dramatis 1-0 atas Malaysia dan menghadirkan emas pertama di depan publik sendiri.
Bertje, yang dijuluki “Sang Pendeta”, dikenal tegas dan berdedikasi. Di bawah asuhannya, Indonesia juga sempat menembus semifinal Asian Games 1986, menandai era keemasan sepak bola nasional di level Asia Tenggara.
Anatoli Polosin: Emas Kedua Lewat Latihan Keras

Setelah empat tahun berlalu, pelatih asal Uni Soviet, Anatoli Polosin, menciptakan catatan baru dalam sejarah sepak bola Indonesia. Setelah tidak berhasil mendapatkan medali emas di SEA Games 1989 karena tereliminasi di semifinal, Polosin melakukan perubahan besar dalam metode pelatihan.
Pemusatan latihan dilakukan dengan tingkat disiplin yang tinggi dan intensitas yang ekstrem untuk membentuk fisik serta mental para pemain menjadi juara. Hasil dari usaha ini sangat memuaskan saat SEA Games 1991 berlangsung di Manila, Filipina.
Tim Indonesia berhasil memenangkan semua pertandingan di fase grup dan melaju ke semifinal untuk menghadapi Singapura. Pertandingan berlangsung sangat ketat, namun Garuda Muda berhasil meraih kemenangan melalui adu penalti dengan skor 4-0.
Pada final, Indonesia kembali menunjukkan ketangguhannya dengan mengalahkan Thailand lewat adu penalti 4-3 setelah pertandingan berakhir imbang 0-0 selama 120 menit. Kemenangan di SEA Games 1991 menjadi momen yang sangat bersejarah, karena menegaskan posisi Polosin sebagai pelatih asing paling sukses dalam sejarah Timnas Indonesia.
Indra Sjafri: Emas Penantian 32 Tahun

Setelah lebih dari tiga dekade, emas SEA Games akhirnya kembali ke pangkuan Indonesia lewat tangan dingin Indra Sjafri pada 2023. Pelatih asal Sumatra Barat itu sebenarnya sudah nyaris melakukannya di edisi 2019, namun saat itu Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam di final.
Belajar dari kegagalan, Indra menyiapkan tim dengan matang untuk edisi Kamboja 2023. Hasilnya luar biasa, Garuda Muda tampil dominan sejak babak grup dengan menyapu bersih empat laga kemenangan di Grup A.
Pada semifinal, Indonesia berhasil membalas kekalahan dari Vietnam dengan kemenangan dramatis 3-2. Lalu, di final melawan Thailand, semangat juang luar biasa kembali ditunjukkan, berbuah kemenangan 5-2 yang memastikan medali emas kembali ke Tanah Air.
Indra Sjafri pun melengkapi daftar pelatih legendaris yang sukses membawa Indonesia berjaya di ajang SEA Games. Tiga nama, tiga era, namun satu semangat: kebanggaan untuk Garuda di dada.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475693/original/008495600_1768641306-IMG_6770.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)











