Ini Mantra Ampuh yang Dipakai Wanita Mesir Kuno saat Proses Melahirkan
Mesir Kuno anggap kelahiran penuh risiko, lindungi ibu dan bayi dengan doa, mantra, dan dewa Hathor untuk hindari kematian dan roh jahat.

Di balik kemegahan piramida dan kisah para firaun, budaya Mesir Kuno menyimpan perhatian besar terhadap momen paling rapuh dalam kehidupan manusia: kelahiran.
Bagi masyarakat Mesir ribuan tahun silam, proses melahirkan bukan sekadar urusan biologis, melainkan peristiwa sakral yang menyimpan risiko tinggi.
Rasa takut akan kematian ibu dan bayi mewarnai setiap kelahiran, sehingga doa dan perlindungan spiritual menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi melahirkan mereka.
Laporan dari Synonym.com dan International Journal of Osteoarchaeology menyebutkan bahwa masyarakat Mesir Kuno memandang kelahiran sebagai pengalaman religius.
Di masa ketika pengetahuan medis masih sangat terbatas, mereka menggantungkan harapan pada kekuatan gaib. Mantra-mantra, jimat pelindung, dan doa kepada dewa-dewi dipanjatkan demi keselamatan ibu dan bayi dari ancaman tak kasat mata.
Salah satu sosok ilahi yang sering dimintai perlindungan adalah Hathor, Dewi Kesuburan. Ia dipercaya memiliki kekuatan menjaga kesehatan reproduksi dan mengawasi kelahiran.
Dalam banyak catatan, dewi ini dipuja melalui doa dan jampi-jampi yang khusus diciptakan untuk melindungi ibu hamil dan anak yang akan lahir. Keberadaannya menjadi simbol harapan di tengah kecemasan akan bahaya yang bisa datang sewaktu-waktu.
Keyakinan terhadap adanya roh jahat yang mengintai wanita hamil juga mewarnai kepercayaan masyarakat kala itu. Para ibu sering kali dibekali amulet dan mantera untuk menolak bala dari makhluk-makhluk gaib yang diyakini dapat mencelakai kandungan atau bayi yang baru dilahirkan.
Ketakutan ini bahkan tercermin dalam teks-teks kuno seperti Dekrit Amulet Oracular, yang menyebut secara eksplisit ancaman terhadap “kelahiran Horus”, kelahiran tidak teratur, hingga kelahiran anak kembar. Anak kembar, dalam beberapa konteks, dianggap sebagai pertanda buruk dan bisa membawa konsekuensi sosial atau spiritual tertentu.
Tingkat kematian bayi pada masa itu sangat tinggi. Dari 115 makam yang ditemukan di pemakaman kuno El Bagawat, sekitar 35 persen di antaranya adalah makam bayi.
Angka ini menggarisbawahi betapa rapuhnya kehidupan anak-anak di era Mesir Kuno, serta memperlihatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan sejak masa kehamilan hingga proses kelahiran berlangsung.
Keseluruhan pandangan ini memperlihatkan bahwa bagi orang Mesir Kuno, melahirkan adalah momen yang menyatukan tubuh, jiwa, dan alam spiritual.
Di tengah keterbatasan sains, mereka membangun sistem perlindungan sendiri—yang meski tak terlihat, tetap diwariskan dalam berbagai bentuk peninggalan dan teks kuno yang mengungkapkan kecemasan, harapan, dan keteguhan hati dalam menghadapi misteri kelahiran.
Lantas, bagaimana bunyi mantra tersebut dirapal?
"Kami akan menjaganya tetap aman dari kelahiran Horus, dari kelahiran yang tidak teratur, dan dari kelahiran anak kembar".
Reporter magang: Zahra Aulia.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)

















