OPINI: Puasa dan Pendidikan Keimanan
Ibadah puasa sebagai momentum untuk merefleksikan diri dan media pendidikan keimanan yang sempurna

Oleh: Muqorobin (Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri Jakarta dan Kepala SMA Avicenna Jagakarsa)
Setiap ibadah memiliki hubungan terhadap tingkat kesalehan personal (vertical oriented) dan sosial (horizontal oriented) seseorang. Idealnya semakin tinggi tingkat ibadah ritual maka semakin tinggi pula kesalehan personal dan sosial seseorang. Namun kenyataannya, dalam praktik terkadang terjadi ironi negatif, dimana secara ritual ibadah seseorang tinggi sementara penerapan dalam bermoral, kesadaran nilai-nilai kemanusiaan dan kesalehan sosialnya rendah.
Sebagaimana salah satu contoh, dalam laporan khusus majalah Ceoworld, 8 April 2024, menempatkan Indonesia sebagai negara ketujuh paling religius di dunia. Sebanyak 98,7 persen responden dari Indonesia mengaku religius. Di antara negara-negara G20, Indonesia adalah satu-satunya negara yang masuk dalam 40 negara paling religius di dunia. Survei itu juga menguatkan jajak pendapat sebelumnya oleh Pew Research Center pada 2018. Sebanyak 93 persen responden Indonesia menilai agama itu sangat penting.
Akan tetapi, nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2024 mencapai 37 dari 100, naik dibandingkan tahun sebelumnya di angka 34 per 100. Kenaikan indeks itu membuat peringkat IPK Indonesia ikut meningkat dari 115 menjadi peringkat 99 dari 180 negara. Artinya, posisi IPK Indonesia ada di separuh bawah negara-negara dengan IPK terendah.
Kondisi itu justru berkebalikan dengan negara-negara dengan religiositas rendah atau kurang yang ternyata justru memiliki IPK tinggi. Denmark, yang hanya 19 persen masyarakatnya mengaku religius atau menduduki peringkat 145 dari 148 negara, memiliki IPK 90 dan menjadi negara dengan tingkat korupsi terendah di dunia. Adapun Singapura yang 70 persen penduduknya religius mempunyai IPK tertinggi ketiga di dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pelaksanaan ibadah yang memiliki dimensi religusitas tidak sepenuhnya berbanding lurus dalam membentuk kesalehan personal sesorang. Ibadah yang dijalankan masih pada level simbolistik dan formalitas ritual semata, belum pada esensi keimanan untuk membentuk manusia berkarakter mulia.
Terkait dengan hal itu, dalam QS. Al-Baqarah (2:177) Allah memperingatkan secara tegas; "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, serta melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kesulitan, penderitaan, dan pada saat peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.".
Islam sebagai agama yang mengajarkan untuk agar beragama secara utuh, perlu kiranya menjadikan ibadah puasa sebagai momentum untuk merefleksikan diri dan media pendidikan keimanan yang sempurna. Sejatinya, ibadah puasa, sebagai rukun Islam yang keempat, di samping menekankan pada nilai ritualnya untuk pendidikan diri dalam mencegah perbuatan yang munkar dan mencapai derajat ketakwaan, juga sarat dengan pesan-pesan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan berpuasa sesorang tidak hanya diperintahkan untuk meningkatkan kualitas ibadah personal tetapi juga meningkatan kesalehan sosial dan membentuk pribadi yang berakhlak mulia serta pembawa rahmat bagi semesta.
Upaya tersebut dapat dimanisfetasikan dari esensi puasa itu sendiri yakni menahan segala kemauan yang membuncah karena syahwat, godaan hawa nafsu untuk mengejar materi tanpa batas, menimbulkan kebencian, egoisme dan perpecahan dengan sesama.
Dalam dalam QS. Al-Baqarah (2:184) terdapat 'khair' (kebaikan, lebih baik) yang disebut tiga kali. Mayoritas ulama berpendapat bahwa selain bertujuan meraih takwa, ibadah puasa juga berorientasi kebaikan (khairiyyah al-ittijâh). Ritualitas ibadah puasa membuahkan kebaikan melalui manifestasi keimanan secara holistik. Spirit kebaikan dalam manifestasi keimanan ini tidak hanya dilakukan pada saat di bulan puasa saja, tetapi juga saat menjalankan kehidupan selamanya dan dimana saja.
Bagi orang beriman, spirit kebaikan dan semangat menebar maslahat bagi sesama harus diyakini sebagai kesatuan dalam beribadah.
“Engkau berpuasa itu lebih baik, jika engkau mengetahui” (QS al-Baqarah, 2: 184). Artinya, spirit kebaikan ibadah ibadah akan dapat diaktualisasikan, apabila didasari iman yang kuat dan ilmu yang memadai juga. Suatu kemustahilan seseorang dalam menjalankan kebaikan dan mampu menebar maslahat bagi sesama tanpa adanya imam dan ilmu yang memadai.
Oleh karena itu, roadmap kurikulum pendidikan dalam bulan puasa tidak hanya ritual rutinan berupa puasa secara fisik (tidak makan, tidak minum dan tidak merokok), puasa dari godaan hawa nafsu birahi dan menahag amarah, tetapi juga memiliki tujuan inti yakni mendidik keimanan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan.
Puasa yang ideal yakni puasa secara totalitas baik lahir maupun batin; puasa melatih keimanan secara holistik yang termanifestasikan secara transenden (keTuhanan), itulah wujud dari pencapaian takwa dan iman yang sejati.
Dalam konteks nilai spiritual ke-Tuhan-nan, ibadah puasa memiliki nilai yang menegaskan adanya interaksi yang kuat antara hamba dengan Sang Khaliq. Ibadah puasa menjadi media hubungan personal antara hamba dengan Sang Khaliq, sekaligus medium esensi kemanusiaan dan mengasah kepekaan sosial.
Ibadah puasa menggungah semangat menebar masalahan dan kemanusiaan bukan sebaliknya membawa madharat. Perasaan lapar dan dahaga yang dirasakan saat berpuasa, menjadi pesan kuat agar orang yang berpuasa berempati akan pedihnya penderitaan hidup yang dijalani orang-orang yang sehari-harinya dihantui rasa kelaparan dan tidak mudah mengambil hak orang lain. Itulah bagian kecil indikator dari keberhasilan orang berpuasa yang memanifestasikan keimanan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.
Terakhir, secara spesifik dalam QS. Al-Mu’minun (23:1-6) Allah memberikan ciri-ciri yang yang mukmin diantaranya; mereka yang khusyuk dalam shalatnya. Orang mukmin yang sejati adalah mereka yang shalatnya dilakukan dengan penuh kekhusyukan, fokus, dan tidak tergesa-gesa.
Implementasi itu dapat diwujudkan karena pada saat berpuasa sesorang melatih diri untuk merenung dan meningkatkan kualitas ibadah shalatnya melalui shalat rawatib dan qiyamul lail.; menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Orang mukmin tidak membuang waktu untuk hal-hal yang sia-sia, seperti gosip, perdebatan tidak bermanfaat, atau hiburan yang melalaikan. Selama bulan puasa, setiap orang yang berpuasa didorong untuk memanfaatkan sejengkal waktu untuk hal-hal yang bermanfaat dan menghindakan pertentangan.
Selanjutnya, indikator orang beriman yakni menunaikan zakat. Melalui berpuasa orang mukmin di asah komitmennya tidak hanya beribadah secara pribadi, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan sesama dengan menunaikan zakat dan bersedekah; Menjaga kemaluannya (menjaga diri dari zina).
Dengan media berpuasa orang mukmin sejati mampu menjaga kesucian diri dari perbuatan zina dan hanya menyalurkan hasratnya kepada pasangan yang sah; Menjaga amanah dan menepati janji. Pada konteks ini, puasa mengajarkan agar orang mukmin mempergetuh jati dirinya sebagai pribadi yang mampu bertanggung jawab dalam menjaga kepercayaan, baik dalam urusan dunia maupun agama; Selalu menjaga shalatnya.
Bagi mereka yang ditempa ibadahnya selama berpuasa senantiasa tidak hanya khusyuk dalam shalat, tetapi juga menjaga waktu dan konsistensi dalam melaksanakannya.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya di bulan puasa yang penuh Rahmat, berkah dan maghfirullah ini orang Islam mampu menjalankan ibadah puasa dengan khusyu’, merenung atas perjalanan hidup yang penuh khilaf, merancang masa depan untuk perbaikan dan mengaktulisasikan nilai-nilai keimanan dalam setiap dimensi kehidupan.
Apalah artinya seseorang mampu mengisi ibadah puasa dengan ritual ibadah yang terkesan begitu khusyu’, sementara dalam diri tidak ada perbaikan spirit nilai-nilai keimanan dan bahkan defisit dalam implementasi kehidupan secara nyata. Bulan puasa merupakan arena tarbiyah Ilahiyah untuk merefleksikan, memperbaiki dan mengokohkan keimanan seseorang. Dengan begitu, niscaya umat Islam akan menjadi pioneer dalam setiap perubahan dan pembawa obor peradaban dunia yang mencerahkan (Syuhadā’ ‘ala an-Nās) serta menebar rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).
Wallahu A’lam Bishawab.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/3434920/original/072041100_1618961629-iPad-Pro-01.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5061320/original/014107100_1734844142-WhatsApp_Image_2024-12-22_at_12.01.05_0ef7b042.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/677517/original/ilustrasi-penganiayaan-m.iqbal.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2516590/original/072698400_1544075633-20181206-Habib-Bahar-bin-Smith-Iqbal6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5502885/original/084986100_1771051563-Relawan_perempuan_Dwi_Lestari_antarkan_makanan_gratis_untuk_para_lansia.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496067/original/046057600_1770461444-7eff02ff-894e-4891-b507-58e84c8be211.jpeg)













