Menteri PPPA Ajak Anak-Anak Ambil Peran Hadapi Krisis Iklim Global
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengajak seluruh anak di Indonesia untuk aktif mengambil peran dalam menjaga bumi dan menghadapi krisis iklim, didasari riset yang menunjukkan anak-anak paling rentan terdampak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyerukan ajakan kepada seluruh anak di Indonesia untuk turut serta menjaga bumi. Ajakan ini disampaikan dalam upaya kolektif menghadapi tantangan krisis iklim yang semakin mendesak. Kegiatan kolaborasi aksi iklim ini bertajut "Aku, Kamu, Kita adalah Bumi" dan diselenggarakan bersama Save The Children.
Menurut Menteri Arifah, anak-anak memiliki peran krusial dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Inisiatif ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran serta mendorong aksi nyata dari generasi muda. Acara tersebut berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Sabtu, 22 November.
Pemerintah menyadari bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim. Oleh karena itu, perlindungan mereka dari kerusakan lingkungan menjadi prioritas utama bagi seluruh pemangku kepentingan.
Ajak Anak Menjadi Agen Perubahan Iklim
Menteri PPPA Arifah Fauzi menekankan pentingnya melibatkan anak-anak dalam menjaga lingkungan. "Kita ingin mengajak anak-anak kita untuk turut menjaga dunia, sebagaimana dalam aksi 'Aku, Kamu, Kita, adalah Bumi', artinya siapapun kita yang berada di bumi harus menjaganya," ujar Menteri Arifah di Jakarta. Ia juga mendorong anak-anak untuk memulai aksi menjaga lingkungan dari diri sendiri.
Setelah memulai dari diri sendiri, diharapkan anak-anak dapat mengajak teman-teman sebaya mereka untuk bersama-sama semangat menjaga bumi ini. Dengan populasi anak yang mengisi sepertiga penduduk Indonesia, literasi dan aksi nyata dari mereka memiliki potensi dampak yang sangat besar. Ini akan memastikan generasi mendatang mewarisi lingkungan yang lebih baik.
Kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak sangat penting untuk memastikan suara anak didengar. Keterlibatan aktif mereka dalam isu lingkungan harus lebih bermakna dan diwujudkan dalam kebijakan. Langkah ini merupakan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan planet kita.
Krisis Iklim Ancam Masa Depan Anak
Krisis iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan krisis yang sedang terjadi saat ini dan dampaknya dirasakan langsung oleh anak-anak. Riset Global Save the Children tahun 2025 mengungkapkan fakta mencemaskan. Anak-anak yang lahir saat ini akan mengalami bencana iklim dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Hampir semua anak yang lahir sejak tahun 2020 diprediksi akan menghadapi lebih banyak gelombang panas, banjir sungai, kekeringan, kebakaran hutan, dan kegagalan panen. Frekuensi dan intensitas bencana ini akan jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menegaskan, "Anak-anak merasakannya hari ini rumah mereka terkena banjir, sekolah terganggu, kesehatan terancam."
Sebagai orang dewasa, kita memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan suara anak-anak diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata. Perlindungan terhadap anak-anak dari dampak krisis iklim adalah kewajiban moral. Ini juga merupakan langkah strategis untuk membangun ketahanan masyarakat di masa depan.
Kerentanan dan Adaptasi Anak Perempuan
Riset Save The Children tahun 2025 juga menyoroti bahwa anak perempuan menanggung beban ganda akibat krisis iklim, baik di perkotaan maupun pedesaan. Di Jakarta Timur, misalnya, banjir berulang dan panas ekstrem memperberat beban domestik yang seringkali diemban oleh anak perempuan. Tugas seperti memasak, mengambil air, mengasuh adik, hingga membersihkan rumah pasca-bencana menjadi lebih sering mereka lakukan.
Situasi serupa terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana kekeringan dan kelangkaan air menjadi masalah serius. Kondisi ini membatasi akses anak perempuan pada sanitasi yang aman dan kesehatan reproduksi. Mereka juga menghadapi peningkatan risiko keselamatan saat harus berjalan jauh untuk mengambil air bersih.
Meskipun menghadapi kerentanan berlapis, anak perempuan menunjukkan kapasitas adaptasi yang kuat dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Hal ini membuktikan bahwa mereka adalah agen perubahan yang sangat penting dalam upaya ketahanan iklim. Pemberdayaan mereka dapat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475932/original/049906700_1768695353-115507.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475928/original/032653900_1768693499-IMG-20260117-WA0238.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475924/original/031054700_1768690698-IMG-20260117-WA0172.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)











