SPPG Mataram Sesuaikan Jadwal MBG dengan Program Lima Hari Sekolah
Koordinator Wilayah SPPG Kota Mataram melakukan penyesuaian jadwal Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa, menyelaraskan dengan program lima hari sekolah yang baru diterapkan.

Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, kini menerapkan program lima hari sekolah, mendorong Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat untuk menyesuaikan jadwal pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para siswa. Penyesuaian ini bertujuan memastikan program MBG tetap berjalan efektif dan sesuai dengan perubahan sistem belajar mengajar. Langkah ini diambil setelah melalui rapat koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait di Kota Mataram.
Hermawan Riadi, Koordinator Wilayah SPPG Kota Mataram, menjelaskan bahwa penyesuaian utama dilakukan dengan menggabungkan jatah makan hari Sabtu ke hari Jumat. Keputusan ini diambil untuk mengakomodasi program lima hari sekolah yang telah dimulai selama sepekan terakhir. Dengan demikian, siswa akan menerima dua jatah MBG pada hari Jumat, yaitu untuk konsumsi hari Jumat dan pengganti jatah hari Sabtu.
Pembahasan mengenai penyesuaian distribusi MBG ini telah disepakati dalam rapat koordinasi yang melibatkan Pemerintah Kota Mataram, Dinas Pendidikan, serta Dinas Kesehatan setempat. Rapat penting tersebut dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026, menegaskan komitmen semua pihak untuk mendukung kelancaran program gizi siswa di tengah perubahan jadwal sekolah. SPPG memastikan bahwa setiap perubahan yang dilakukan telah melalui pertimbangan matang dan persetujuan bersama.
Strategi Penyesuaian Jadwal MBG dan Pemanfaatan UMKM Lokal
Untuk jatah makan hari Sabtu yang digabungkan ke hari Jumat, SPPG Mataram menerapkan strategi khusus guna menjaga kualitas makanan. Makanan yang diberikan untuk jatah hari Sabtu akan berupa makanan kering, seperti roti, buah, dan susu, bukan makanan siap santap atau nasi beserta lauk-pauk seperti biasanya. Hal ini dilakukan untuk menyiasati agar makanan tidak cepat rusak dan tetap layak konsumsi oleh siswa.
Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh SPPG adalah kewajiban menggunakan produk dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal untuk makanan kering tersebut. Hermawan Riadi menegaskan larangan keras bagi SPPG untuk menyediakan produk dari perusahaan besar atau pabrikan, seperti makanan ringan kemasan tertentu. Kebijakan ini bertujuan untuk memberdayakan ekonomi lokal dan mendukung pelaku UMKM di sekitar lingkungan sekolah.
Apabila di suatu wilayah sekolah tidak tersedia UMKM yang memadai untuk memenuhi kebutuhan MBG, SPPG akan berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian, Koperasi, UKM setempat. Koordinasi ini dilakukan untuk mengarahkan penyedia yang tepat dan memastikan pasokan makanan kering tetap terjamin. Langkah ini menunjukkan komitmen SPPG dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus menjaga keberlanjutan program MBG.
Standar Gizi dan Keamanan Pangan Terjamin
Meskipun menggunakan produk UMKM lokal, Hermawan Riadi memastikan bahwa standar gizi dan keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama. Sebelum menjalin kerja sama dengan penyedia UMKM, SPPG akan melakukan validasi data secara ketat. Proses validasi ini melibatkan kerja sama dengan Dinas Kesehatan dan pihak terkait lainnya untuk memastikan semua persyaratan terpenuhi.
Persyaratan yang dimaksud meliputi kepemilikan sertifikat halal, izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta jaminan bebas dari berbagai bahan pengawet berbahaya. Selain itu, produk UMKM juga harus memenuhi standar-standar pangan lainnya yang telah ditetapkan. “Jadi kami tidak asal tunjuk pihak ketiga penyedia makanan kering MBG,” tegas Hermawan, menunjukkan selektivitas dalam pemilihan mitra.
Validasi dan pengawasan ketat ini penting untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi oleh siswa. Dengan demikian, orang tua dan pihak sekolah tidak perlu khawatir mengenai aspek kesehatan dari makanan kering yang disediakan untuk jatah hari Sabtu. SPPG berkomitmen penuh untuk menyediakan makanan bergizi yang aman dan berkualitas bagi seluruh siswa penerima program.
Penyesuaian Waktu Distribusi MBG
Selain penyesuaian jadwal hari, program lima hari sekolah juga berdampak pada perubahan waktu distribusi MBG ke masing-masing sekolah. Hermawan menjelaskan bahwa siswa kini pulang sekolah satu jam lebih lambat dibandingkan dengan sistem enam hari sekolah sebelumnya. Oleh karena itu, waktu distribusi MBG juga disesuaikan menjadi lebih lambat dari jadwal biasa.
Untuk siswa tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga kelas 3 Sekolah Dasar (SD), distribusi MBG akan dimulai pada pukul 08.00 hingga 09.00 WITA. Sementara itu, untuk siswa kelas tinggi, yaitu kelas 4 SD hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), distribusi MBG dijadwalkan pada pukul 11.00 hingga 11.30 WITA. Perubahan ini dilakukan agar makanan dapat diterima siswa pada waktu yang tepat dan masih segar.
Hermawan optimistis bahwa penyesuaian jadwal dan waktu distribusi MBG ini dapat berjalan dengan baik seiring dengan program lima hari sekolah. “InsyaAllah, terkait dengan penyesuaian lima hari sekolah dengan program MBG bisa berjalan baik,” pungkasnya. Koordinasi yang erat antarpihak diharapkan mampu mengatasi potensi kendala dan memastikan kelancaran program gizi ini.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5158422/original/012721900_1741665141-kata-kata-untuk-stop-bullying.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475190/original/073855700_1768554990-TPA_Benowo_mengubah_sampah_menjadi_energi_listrik.jpeg)





