Rupiah Melemah di Penutupan Perdagangan, Dipicu Data Pekerjaan AS yang Lebih Baik
Nilai tukar Rupiah melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Pelemahan Rupiah ini dipicu data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan, menarik perhatian pasar.

Nilai tukar Rupiah bergerak melemah di penutupan perdagangan Jakarta pada Jumat, 9 Januari 2026, mencapai Rp16.819 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan 21 poin atau 0,13 persen dari posisi sebelumnya Rp16.798 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan dinamika pasar keuangan yang terus bergejolak.
Pelemahan nilai tukar Rupiah ini, menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjandra, sangat dipengaruhi oleh data-data pekerjaan Amerika Serikat. Data tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan pasar, memicu penguatan dolar AS. Kondisi ini secara langsung memberikan tekanan pada mata uang domestik.
Perkembangan ini mengindikasikan bahwa sentimen pasar global sangat sensitif terhadap indikator ekonomi utama dari negara adidaya. Investor cenderung mengalihkan aset ke dolar AS sebagai aset safe haven. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri bagi stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Data Ketenagakerjaan AS Dorong Penguatan Dolar
Data-data ketenagakerjaan Amerika Serikat menjadi pemicu utama penguatan dolar AS yang berimbas pada pelemahan Rupiah. Laporan dari Challenger, Gray & Christmas menunjukkan pemutusan hubungan kerja (PHK) menurun signifikan. Angka PHK tercatat sebesar 35.553 pada Desember 2025, turun 8,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), sekaligus menjadi level terendah sejak Juli 2024.
Selain itu, klaim pengangguran awal (US Initial Jobless Claims) untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025 juga memberikan sinyal positif bagi ekonomi AS. Meskipun naik menjadi 208 ribu dari 200 ribu pada pekan sebelumnya, angka ini masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 212 ribu. Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS tetap resilient.
Departemen Tenaga Kerja AS juga merilis laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) bulan November 2025 yang menunjukkan lowongan pekerjaan menurun menjadi 7,14 juta. Angka ini turun dari 7,44 juta dibandingkan Oktober, namun tetap mengindikasikan aktivitas pasar kerja yang solid. Perubahan Ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) juga mencatat peningkatan penggajian swasta sebesar 41 ribu pada Desember, meskipun sedikit di bawah perkiraan 47 ribu, namun menandai pemulihan yang jelas dari kehilangan pekerjaan 29 ribu pada November.
Secara keseluruhan, data-data ini mengindikasikan kekuatan ekonomi AS yang berkelanjutan, memicu ekspektasi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Hal ini membuat dolar AS semakin menarik bagi investor, sehingga menekan nilai mata uang negara berkembang seperti Rupiah.
Faktor Domestik dan Keyakinan Konsumen Penahan Pelemahan Rupiah
Di tengah tekanan eksternal, Ariston Tjandra juga menyoroti beberapa faktor domestik yang turut memengaruhi pergerakan Rupiah. Ia menyebutkan bahwa persoalan bencana di Sumatera serta stimulus fiskal dan moneter yang belum sepenuhnya mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu penyebab pelemahan. Faktor-faktor internal ini menambah kompleksitas tantangan bagi stabilitas nilai tukar Rupiah.
Namun, pelemahan Rupiah tertahan oleh laporan positif dari Bank Indonesia (BI) terkait keyakinan konsumen. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat pada Desember 2025, memberikan sedikit bantalan bagi Rupiah. Hal ini menunjukkan optimisme di kalangan masyarakat meskipun ada tekanan eksternal.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 berada pada level optimis, yakni sebesar 123,5, yang berarti indeks lebih dari 100. Ariston menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi menjelang akhir tahun menjadi salah satu pendorong utama di balik tingginya indeks kepercayaan konsumen ini. Konsumsi yang kuat dapat memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
Meski demikian, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.834 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.801 per dolar AS. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada sentimen positif dari keyakinan konsumen, tekanan dari penguatan dolar AS masih sangat dominan di pasar keuangan.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480126/original/052038900_1769043330-PHOTO-2026-01-21-23-03-35.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480091/original/039488600_1769035304-IMG_5560.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480103/original/031715700_1769041871-IMG_5557.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/thumbnails/5480102/original/000777200_1769041088-pulang-dari-inggris-prabowo-kantongi-komitmen-investasi-rp90-triliun-3fab93.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480101/original/078910000_1769040935-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_07.13.03.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5382314/original/023006700_1760577182-WhatsApp_Image_2025-10-15_at_23.02.34.jpeg)












