Pejabat AS mengatakan ada tawaran berlindung untuk presiden Suriah

Sumber gambar, Reuters
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan beberapa pemimpin Arab sudah menawarkan tempat perlindungan kepada Presiden Bashar al-Assad sebagai jalan untuk mengakhiri kekerasan di Suriah.
Namun asisten Menteri Luar Negeri AS Jeffrey Feltman tidak menyebut negara-negara yang dimaksud.
"Beberapa pemimpin Arab mulai menawarkan tempat perlindungan dan mendorong dia untuk pergi dengan cepat," katanya seperti dikutip kantor berita Reuters.
Dia menambahkan hampir semua pemimpin Arab yang berbicara dengannya yakin bahwa akhir dari kepemimpinan Presiden Assad tidak bisa dihindarkan lagi.
Feltman juga mengatakan harapannya agar Assad dan kelompok dekatnya meninggalkan Suriah secara suka rela.
Unjuk rasa antipemerintah pimpinan Presiden Bashar al-Assad sudah berlangsung sejak Maret tahun ini dan belum ada tanda-tanda akan berhenti walau dihadapi dengan kekerasan oleh aparat keamanan.
Kekerasan masih berlangsung
Liga Arab berada dalam tekanan yang semakin kuat yuntuk mengambil tindakan yang lebih tegas atas pemerintah Damaskus yang tidak melaksanakan usulan damai Liga Arab yang sudah mereka sepakati pada tanggal 2 November lalu.
Salah satu usulan adalah menghentikan aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa sipil, namun hingga Rabu kemarin aparat keamanan masih memburu pengunjuk rasa.
Hari Rabu 9 November, laporan-laporan dari pegiat hak asasi manusia Suriah menyebutkan delapan pengunjuk rasa tewas dan 25 lainnya terluka dalam sebuah upacara pemakaman di Damaskus.
Saat itu massa sedang menghadiri pemakaman Bassam, seorang pengunjuk rasa yang tewas sehari sebelumnya.
Insiden tersebut merupakan yang terburuk di ibukota sejak unjuk rasa antipemerintah Suriah marak Maret tahun ini.
Kekerasan juga terjadi di tempat lain, dengan laporan tentang tewasnya 16 warga sipil di Homs dan Hama, walau laporan-lappran tentang korban jiwa ini tidak bisa dikukuhkan karena pemerintah Suriah membatasi wartawan asing untuk masuk.
Pemerintah Suriah selalu menegaskan bahwa mereka menempuh operasi untuk memberantas kelompok-kelompok bersenjata.
Negara-negara Barat sudah menyingkirkan operasi militer -seperti serangan udara yang membantu kelompok perlawanan Libia- untuk digelar di Suriah.
PBB memperkirakan korban jiwa yang jatuh sejak unjuk rasa marak tujuh bulan lalu sudah mencapai 3.5000 orang lebih.





























