70 Kasus Keracunan Terjadi, DPR Minta Evaluasi Menyeluruh Program Makanan Bergizi Gratis
DPR mendesak Evaluasi Program Makanan Bergizi Gratis secara menyeluruh setelah 70 kasus keracunan dilaporkan, mempertanyakan standar keamanan pangan dan tata kelola program vital ini.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan Evaluasi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) secara menyeluruh. Desakan ini muncul menyusul peningkatan signifikan kasus keracunan makanan yang terkait dengan program tersebut di berbagai wilayah. Banyak siswa harus menerima perawatan medis setelah mengonsumsi makanan dari program ini.
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Putih Sari, menegaskan pentingnya evaluasi mendalam terhadap tata kelola program ini. Ia khawatir manfaat besar dari program MBG akan tergerus oleh praktik tata kelola yang buruk di lapangan. Keselamatan penerima manfaat harus menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pelaksanaan program.
Evaluasi ini diharapkan dapat mencakup seluruh aspek, mulai dari sumber bahan baku hingga proses penyajian makanan. Tujuannya adalah untuk memastikan standar keamanan pangan yang ketat dan keseimbangan gizi tetap terjaga. Ini krusial agar program yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 ini dapat mencapai targetnya dengan aman.
Mendesak Evaluasi Menyeluruh Tata Kelola Program
DPR melalui Wakil Ketua Komisi IX, Putih Sari, secara tegas meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengevaluasi tata kelola Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Permintaan ini didasari oleh laporan peningkatan kasus keracunan makanan yang menimpa penerima manfaat di beberapa daerah. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kualitas dan keamanan pangan yang disalurkan.
Sari menekankan bahwa manfaat besar dari program MBG tidak boleh dirusak oleh tata kelola yang buruk di lapangan. "The large benefits of this program must be maintained and not undermined by bad governance in the field," ujarnya dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa insiden keracunan harus dilihat lebih dari sekadar angka statistik, melainkan sebagai cerminan masalah fundamental yang perlu segera diperbaiki.
Hingga September 2025, BGN mencatat 70 kasus keracunan makanan terkait program ini, dengan total 5.914 penerima manfaat terdampak. Angka ini menunjukkan urgensi untuk segera melakukan tindakan korektif. Evaluasi Program Makanan Bergizi Gratis menjadi keharusan untuk melindungi kesehatan anak-anak dan ibu hamil yang menjadi target utama program.
Peningkatan Standar Keamanan Pangan dan Rantai Pasok
Untuk mengatasi masalah keracunan, Putih Sari mendesak BGN untuk mengevaluasi secara detail implementasi program dan meningkatkan standar keamanan pangan. Pencegahan kontaminasi menjadi fokus utama dalam perbaikan ini. Selain itu, keseimbangan gizi dalam makanan yang disediakan juga harus terus dipertahankan demi mencapai tujuan program.
Evaluasi yang komprehensif harus mencakup seluruh bagian dari rantai pasok makanan. Ini dimulai dari sumber dan penyimpanan bahan baku, proses memasak, hingga tahap kontrol kualitas, pengemasan, dan pengiriman. Setiap tahapan harus memenuhi standar ketat untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan.
Sari menegaskan bahwa Program Makanan Bergizi Gratis harus menetapkan standar "zero accidents" atau nol insiden keracunan. Komisi IX DPR juga akan mendorong BGN untuk berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Koordinasi ini bertujuan untuk menerbitkan standar keamanan pangan khusus bagi program MBG, memastikan perlindungan maksimal bagi penerima manfaat.
Manfaat Program sebagai Investasi Jangka Panjang
Meskipun menghadapi tantangan, Program Makanan Bergizi Gratis dinilai sebagai investasi jangka panjang yang krusial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Program ini menyasar perbaikan status gizi anak di bawah lima tahun, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak sekolah hingga tingkat SMA. Tujuan mulia ini harus tetap menjadi prioritas utama.
Selain aspek gizi, Sari juga menilai program ini memiliki potensi besar untuk mendongkrak ekonomi regional. Penyerapan produk pertanian dan perikanan lokal, serta penciptaan lapangan kerja, adalah beberapa dampak positif yang dapat dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat.
Legislator tersebut menyatakan bahwa manfaat program telah dirasakan dan diterima dengan baik oleh masyarakat luas. "The program's benefits have been felt, and it has been well-received by the public, not only the millions of beneficiaries, but also workers, farmers, fishers, and business players," ujarnya. Menghentikan program ini justru akan membawa kerugian besar bagi rakyat Indonesia, mengingat jangkauannya yang luas.
Program MBG yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 ini ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Cakupan yang masif ini menjadikan MBG salah satu program terbesar yang diimplementasikan di negara ini. Oleh karena itu, Evaluasi Program Makanan Bergizi Gratis menjadi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitasnya.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480103/original/031715700_1769041871-IMG_5557.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482811/original/027935300_1769254413-IMG_7051.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482788/original/034488500_1769250453-G_a6Q8XbYAAsm42.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482438/original/071932200_1769206214-Inter_Milan_vs_Pisa_lagi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456635/original/096053100_1766912433-david.jpeg)

















