Mensesneg: Proyek PSEL 'Waste to Energy' Diluncurkan di 34 Titik, Solusi Atasi Timbunan Sampah Nasional
Menteri Sekretaris Negara mengumumkan peluncuran proyek PSEL 'Waste to Energy' di 34 kabupaten/kota mulai Januari hingga Maret 2026, diharapkan mampu mengatasi timbunan sampah harian yang masif dan mendukung kemandirian energi nasional.

Pemerintah Percepat Proyek PSEL di 34 Titik untuk Atasi Sampah
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan bahwa pemerintah akan segera memulai pembangunan proyek "Waste to Energy" atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang akan diluncurkan di 34 titik di seluruh Indonesia. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk mengelola timbunan sampah harian yang telah mencapai rata-rata lebih dari 1.000 ton per hari di setiap lokasi yang ditargetkan. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek PSEL direncanakan berlangsung mulai bulan Januari hingga Maret 2026.
Proyek PSEL ini menjadi bagian integral dari program hilirisasi nasional yang digagas oleh pemerintah, dengan tujuan utama mengubah sampah yang tidak dapat didaur ulang menjadi sumber energi listrik yang bermanfaat. Dengan demikian, proyek ini diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang bagi permasalahan sampah di Indonesia yang semakin mendesak.
Pembangunan fasilitas PSEL tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah terbuka dan menekan risiko kesehatan masyarakat akibat penumpukan sampah. Lebih dari itu, PSEL juga diharapkan dapat mendukung kemandirian energi nasional serta mengurangi ketergantungan pada energi konvensional seperti batu bara.
Urgensi Pembangunan Proyek PSEL untuk Penanganan Sampah Nasional
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan urgensi pembangunan proyek PSEL di berbagai daerah. Menurutnya, volume timbunan sampah harian yang mencapai rata-rata 1.000 ton per hari di setiap lokasi memerlukan penanganan sesegera mungkin dan efektif. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mempercepat realisasi proyek "Waste to Energy" ini guna mencegah masalah lingkungan dan kesehatan yang lebih parah.
Proyek PSEL diharapkan mampu mengurangi beban lingkungan yang diakibatkan oleh penumpukan sampah. Penumpukan sampah tidak hanya mencemari lingkungan tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, investasi dalam teknologi pengolahan sampah menjadi energi ini sangat krusial untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Dengan mengolah sampah menjadi energi, pemerintah tidak hanya menyelesaikan masalah limbah tetapi juga menciptakan nilai tambah dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Proyek PSEL sebagai Bagian Hilirisasi Strategis Nasional
Proyek PSEL merupakan salah satu dari 18 proyek hilirisasi strategis yang akan mulai dikerjakan pemerintah pada periode Januari hingga Maret 2026. Ke-18 proyek ini telah melewati tahap prastudi kelayakan yang ketat, dengan total nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp600 triliun. Angka investasi yang besar ini menunjukkan skala dan ambisi program hilirisasi nasional.
Realisasi investasi untuk seluruh proyek hilirisasi ini akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia. Keterlibatan entitas khusus ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam memastikan kelancaran dan keberhasilan program ini. Proyek PSEL sendiri diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan hilirisasi di sektor lainnya.
Hilirisasi sampah menjadi energi merupakan langkah inovatif untuk memaksimalkan potensi sumber daya domestik. Ini juga mendukung visi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri serta mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku atau energi. Presiden Prabowo Subianto telah meminta percepatan pelaksanaan groundbreaking untuk 18 proyek hilirisasi ini.
Manfaat Ganda PSEL dan Diversifikasi Energi Nasional
Teknologi PSEL menawarkan manfaat ganda bagi Indonesia. Selain mengurangi volume sampah terbuka, PSEL juga mendukung kemandirian energi nasional dengan mengubah sampah yang tidak dapat didaur ulang menjadi energi seperti panas, listrik, atau bahan bakar alternatif. Hal ini diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap energi konvensional.
Selain proyek "Waste to Energy", Prasetyo Hadi juga menyebutkan rencana groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). DME merupakan bagian dari hilirisasi batu bara, di mana batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas alternatif. Inisiatif ini diharapkan bisa mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap gas LPG.
Diversifikasi sumber energi melalui proyek PSEL dan DME menunjukkan komitmen pemerintah untuk mencari solusi inovatif dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Serta mengurangi dampak lingkungan dari sumber energi konvensional. Program-program di bidang energi dan pertanian juga akan terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)
















