BPBD Bantul Catat Penurunan Kebencanaan Signifikan Sepanjang 2025, Waspada Puncak Musim Hujan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul melaporkan penurunan signifikan dalam jumlah kejadian kebencanaan sepanjang 2025. Penurunan Kebencanaan Bantul ini didorong oleh peningkatan kewaspadaan dan mitigasi, namun masyarakat tetap diimbau waspada

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat adanya penurunan kejadian kebencanaan sepanjang tahun 2025. Total 491 kejadian tercatat, lebih rendah dibandingkan 560 kejadian pada tahun 2024. Penurunan ini menunjukkan efektivitas upaya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Komandan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah, menjelaskan bahwa banyak faktor yang berkontribusi pada tren positif ini. Faktor-faktor tersebut meliputi peningkatan kapasitas, kewaspadaan masyarakat, upaya mitigasi yang lebih baik, serta kondisi cuaca yang lebih landai. Penurunan ini merupakan kabar baik bagi keselamatan warga Bantul.
Meskipun terjadi penurunan jumlah insiden, jenis kebencanaan yang dominan di Bantul tetap serupa dalam dua tahun terakhir. Mayoritas kejadian masih didominasi oleh kebakaran dan bencana hidrometeorologi, yang seringkali diakibatkan oleh cuaca ekstrem. Hal ini menekankan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan.
Tren Penurunan dan Jenis Bencana Dominan di Bantul
BPBD Bantul mengonfirmasi bahwa jumlah kejadian kebencanaan di wilayahnya menurun pada tahun 2025. Data menunjukkan 491 kejadian, turun dari 560 kejadian pada tahun sebelumnya. Penurunan kebencanaan Bantul ini mencerminkan keberhasilan program-program pencegahan bencana.
Aka Luk Luk Firmansyah dari Pusdalops BPBD Bantul menyoroti beberapa penyebab di balik tren positif ini. "Penurunan kejadian kebencanaan ini banyak faktornya, bisa jadi karena kapasitas, kewaspadaan yang bertambah, upaya mitigasi, serta cuaca yang lebih landai," ujarnya. Hal ini mengindikasikan sinergi yang baik antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Meskipun jumlahnya menurun, jenis bencana yang paling sering terjadi di Bantul tidak banyak berubah. Kebakaran dan bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem masih menjadi ancaman utama. Kejadian paling tinggi di tahun 2025 meliputi kebakaran, gerakan tanah, pohon tumbang, angin kencang, banjir, dan bangunan roboh.
Dampak Korban dan Sebaran Kebencanaan di Berbagai Wilayah
Kejadian kebencanaan sepanjang tahun 2025 di Bantul tidak luput dari dampak korban dan kerugian materi. Tercatat dua korban luka akibat gerakan tanah, tiga korban luka akibat banjir, dan tiga korban luka akibat pohon tumbang. Selain itu, kebakaran menyebabkan 13 korban luka dan satu korban meninggal dunia.
Estimasi kerugian finansial akibat berbagai insiden kebencanaan di Bantul mencapai angka Rp13,8 miliar. Angka ini menunjukkan besarnya dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh bencana. Upaya pemulihan dan rehabilitasi terus dilakukan untuk mengurangi beban masyarakat.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Bantul, sebaran kebencanaan paling banyak terjadi di Kecamatan Kasihan dengan 35 kasus kebakaran, 17 titik pohon tumbang, dua kejadian banjir, enam kejadian angin kencang, 10 kejadian gerakan tanah, dan dua bangunan roboh. Sementara itu, Kecamatan Srandakan menjadi wilayah dengan kejadian paling minim, yaitu banjir dua titik, pohon tumbang tiga titik, gerakan tanah dua kejadian, dan angin kencang tiga kejadian.
Imbauan Kewaspadaan Menghadapi Puncak Musim Hujan
Untuk meminimalkan dampak bencana di masa mendatang, BPBD Bantul mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini sangat relevan mengingat informasi dari BMKG yang menyebutkan Januari sebagai puncak musim hujan. Potensi kejadian dampak cuaca ekstrem diprediksi akan meningkat.
Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amiruddin, menekankan pentingnya kesiapsiagaan. "Kami mengimbau kepada seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan bersama pada puncak musim hujan ini," katanya. Kesadaran kolektif menjadi kunci dalam menghadapi tantangan cuaca.
Masyarakat diimbau untuk mengambil langkah-langkah kewaspadaan konkret. Ini termasuk menghindari area berisiko seperti menjauh dari pohon besar, papan reklame, dan bangunan rapuh saat angin kencang. Warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng bukit juga diminta waspada terhadap banjir dan longsor, terutama jika hujan turun lebih dari satu jam tanpa henti.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)

















