Tak cuma Indonesia, Hang Seng Index Pasar Saham Hong Kong juga Anjlok Parah, Apa Penyebabnya?
Penurunan tajam Hang Seng Index dan IHSG mencerminkan ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang mempengaruhi pasar saham.

Pasar saham Indonesia juga mengalami guncangan signifikan. Pada Selasa, 8 April 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan penurunan tajam sebesar 596,33 poin atau setara dengan 9,16 persen, menempatkan IHSG pada posisi 5.914,28. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang kuat di pasar modal domestik
Penurunan tak cuma terjadi di Indonesia. Pada Senin, 7 April 2025, Hang Seng Index di Hong Kong juga mengalami penurunan yang sangat signifikan, mencatatkan penurunan harian terbesar dalam lebih dari satu tahun.
Indeks ini ambles hingga 9,1%, mencapai posisi 20.778,10 pada pukul 10.50 waktu setempat, dan bahkan sempat menyentuh level 10,2% di sesi perdagangan intraday. Penurunan ini lebih parah dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di indeks saham Indonesia pada periode yang sama.
Penurunan drastis Hang Seng Index ini dipicu oleh beberapa faktor, dengan ketegangan perang tarif antara China dan Amerika Serikat menjadi salah satu penyebab utama. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memberlakukan tarif impor tambahan terhadap produk-produk asal Tiongkok, termasuk dari Hong Kong, hingga mencapai 34%. Keputusan ini memicu gelombang kekhawatiran yang menerpa perekonomian global, menyebabkan aksi jual besar-besaran di pasar saham.
Kondisi serupa juga terjadi di berbagai bursa Asia-Pasifik, di mana 11 dari 14 indeks saham acuan di kawasan tersebut merosot ke posisi terendah dalam 52 minggu terakhir. Hampir semua saham dalam Hang Seng Index terperosok, kecuali dua emiten. Perusahaan-perusahaan eksportir, seperti Lenovo Group dan Sunny Optical Technology, menjadi yang paling terdampak oleh kondisi ini.
Penyebab Penurunan Hang Seng Index

Penurunan Hang Seng Index yang tajam dapat dilihat sebagai dampak langsung dari kebijakan perdagangan global yang tidak menentu. Perang tarif antara dua ekonomi terbesar dunia, yaitu AS dan China, telah menciptakan ketidakpastian di pasar. Hal ini diperparah dengan ketidakpastian politik dan ekonomi yang melanda kawasan Asia-Pasifik.
Data menunjukkan bahwa pasar saham di China juga ikut terpengaruh, dengan Indeks CSI 300 turun hingga 7,6%. Beberapa sumber bahkan menyebutkan bahwa penurunan Hang Seng Index mencapai 13,2%, menjadikannya penurunan terburuk sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1997. Situasi ini menunjukkan betapa rentannya pasar saham terhadap kebijakan luar negeri dan kondisi ekonomi global.
Dampak Terhadap Pasar Saham Indonesia

Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai penyebab penurunan yang signifikan dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Penurunan IHSG tidak hanya terjadi secara umum, tetapi juga berdampak pada saham-saham unggulan.
Indeks LQ45, yang melacak pergerakan 45 saham terbesar dan paling likuid di BEI, mengalami penurunan yang cukup dalam, yakni turun 92,61 poin atau 11,25 persen, mencapai posisi 651,90.
Menurut analis sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, penurunan ini didorong oleh beberapa sentimen domestik negatif yang cukup kuat.
Keputusan Morgan Stanley untuk menurunkan peringkat saham MSCI Indonesia dan ketidakpastian seputar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjadi faktor utama penyebab koreksi tersebut.
Hendra menjelaskan bahwa penurunan peringkat saham MSCI Indonesia dari 'equal weight' menjadi 'underweight' memberikan dampak besar terhadap IHSG.
Sentimen Negatif di Pasar Modal

Hendra Wardana juga menambahkan bahwa lembaga tersebut menilai return on equity (ROE) saham-saham di Indonesia terus melemah, sementara pertumbuhan ekonomi masih stagnan. 'Lembaga ini menilai return on equity (ROE) saham-saham di Indonesia terus melemah, sementara pertumbuhan ekonomi masih stagnan,' ujarnya dalam wawancara dengan Antara.
Situasi ini diperparah oleh kekhawatiran investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ahli Strategi Morgan Stanley, Jonathan Garner, memprediksi investasi terhadap PDB Indonesia akan bergerak sideways sepanjang 2025. Hal ini berisiko menekan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan, sehingga investor global cenderung mengalihkan portofolio mereka ke negara ASEAN lain yang dinilai lebih prospektif.
Dengan demikian, baik Hang Seng Index maupun IHSG menunjukkan betapa rentannya pasar saham terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi perekonomian. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari para investor dan pemangku kepentingan untuk mengambil langkah yang tepat dalam menghadapi situasi yang tidak menentu ini.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5158422/original/012721900_1741665141-kata-kata-untuk-stop-bullying.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475190/original/073855700_1768554990-TPA_Benowo_mengubah_sampah_menjadi_energi_listrik.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2818452/original/068180400_1559103065-Screenshot_2019-05-13-17-09-10-899_com.miui.videoplayer.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475125/original/017162900_1768551859-Biawak_terjepit_pintu.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475071/original/079119100_1768549321-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_14.36.03.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474799/original/092220700_1768536164-1000685319.jpg)











