Terungkap! Modal Asing Keluar Bersih Rp16,61 Triliun dari Pasar Keuangan Domestik pada Pertengahan Oktober 2025
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar bersih sebesar Rp16,61 triliun dari pasar keuangan domestik pada periode 13-16 Oktober 2025, memicu pertanyaan tentang dinamika pasar.

Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya aliran modal asing keluar bersih yang signifikan dari pasar keuangan domestik. Jumlah tersebut mencapai Rp16,61 triliun selama periode transaksi 13 hingga 16 Oktober 2025. Data ini menunjukkan dinamika pasar yang perlu dicermati oleh para pelaku ekonomi dan investor.
Keluarnya modal asing ini terjadi di berbagai instrumen investasi. Ini meliputi pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Angka ini menjadi sorotan utama dalam laporan terbaru dari Bank Indonesia.
Fenomena ini juga berdampak pada beberapa indikator ekonomi makro. Salah satunya adalah nilai tukar rupiah yang menunjukkan pelemahan tipis. Selain itu, premi risiko investasi Indonesia juga mengalami kenaikan dalam periode yang sama.
Rincian Aliran Modal Asing Keluar
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan secara rinci komposisi aliran modal asing keluar bersih tersebut. Ia menyebutkan bahwa keluarnya modal asing terjadi di tiga sektor utama pasar keuangan domestik.
“Jumlah tersebut terdiri dari modal asing keluar bersih di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masing-masing sebesar Rp1,09 triliun, Rp11,90 triliun dan Rp3,62 triliun,” kata Ramdan Denny Prakoso di Jakarta, Jumat.
Angka-angka ini mengindikasikan bahwa sektor SBN menjadi penyumbang terbesar dalam penarikan modal asing. Disusul oleh SRBI dan pasar saham. Kondisi ini mencerminkan sentimen investor terhadap instrumen-instrumen tersebut.
Perkembangan Modal Asing Sepanjang Tahun
Secara kumulatif, sejak awal tahun hingga 16 Oktober 2025, data modal asing menunjukkan pola yang bervariasi. Modal asing keluar bersih di pasar saham tercatat sebesar Rp51,24 triliun. Sementara itu, di SRBI, modal asing keluar bersih mencapai Rp132,75 triliun.
Namun, ada pengecualian pada pasar SBN yang justru mencatat modal asing masuk bersih. Jumlah modal asing masuk bersih di pasar SBN adalah sebesar Rp17,28 triliun. Hal ini menunjukkan adanya preferensi investor asing terhadap SBN dalam jangka waktu yang lebih panjang meskipun terjadi outflow pada periode tertentu.
Perbedaan tren ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Ini termasuk kebijakan moneter, kondisi ekonomi global, dan persepsi risiko investor. Pemantauan terus-menerus diperlukan untuk memahami arah pergerakan modal asing ini.
Dampak Terhadap Indikator Ekonomi
Aliran modal asing keluar bersih ini turut memengaruhi beberapa indikator penting. Premi risiko investasi atau credit default swaps (CDS) Indonesia 5 tahun tercatat naik. Dari 80,27 basis poin (bps) per 10 Oktober 2025 menjadi 80,85 bps per 16 Oktober 2025. Kenaikan CDS mengindikasikan peningkatan persepsi risiko.
Nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan tipis. Rupiah dibuka di level Rp16.570 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (17/10). Angka ini sedikit melemah dibandingkan penutupan perdagangan Kamis (16/10) yang berada di level Rp16.565 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini sejalan dengan keluarnya modal asing.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah ke level 98,34 pada akhir perdagangan Kamis (16/10). DXY adalah indeks yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia. Penurunan DXY bisa memberikan sedikit ruang bagi mata uang lain, namun rupiah tetap tertekan oleh faktor domestik.
Pergerakan Imbal Hasil dan Respons BI
Imbal hasil atau yield SBN 10 tahun tercatat turun ke level 5,92 persen pada Jumat (17/10) pagi. Ini turun dari sebelumnya 5,94 persen pada akhir perdagangan Kamis (16/10). Penurunan yield SBN bisa menjadi indikasi peningkatan permintaan terhadap obligasi pemerintah, meskipun ada outflow dari investor asing pada periode tertentu.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury Note 10 tahun juga turun ke level 3,975 persen pada akhir perdagangan Kamis (16/10). Pergerakan yield obligasi AS seringkali menjadi patokan global yang memengaruhi pasar keuangan negara berkembang.
Menyikapi kondisi ini, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. BI juga mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak pasar keuangan global dan domestik.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)























