AS: Israel harus mulai pembicaraan damai

Menhan AS, Leon Panetta dalam jumpa pers di dalam pesawatb menuju Timur Tengah.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Menhan AS, Leon Panetta dalam jumpa pers di dalam pesawatb menuju Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta memperingatkan Israel kini semakin terkucil dalam pergaulan di Timur Tengah.

Sehingga para pemimpin Israel harus kembali memulai pembicaraan damai dengan Palestina dan berupaya memperbaiki hubungan diplomatiknya dengan Turki.

Dari hasil kunjungannya ke Israel, Panetta mengatakan memanasnya suhu politik di Timur Tengah membuat Israel mau tidak mau harus mencari cara berkomunikasi dengan negara-negara lain di kawasan itu demi menjaga stabilitas politik.

"Tak ada keraguan lagi bahwa Israel mempertahankan pendekatan militernya," kata Panetta kepada wartawan.

"Namun pertanyaannya adalah, apakah pendekatan militer sudah cukup jika Anda mengisolasi diri dari arena diplomatik? Keamanan yang sesungguhnya hanya bisa didapat lewat pendekatan diplomatik dan militer yang sama-sama kuat," tambah Panetta.

Panetta khawatir Israel justru tengah membahayakan keselamatannya sendiri jika negeri itu tidak berupaya berkomunikasi dengan negara-negara tetangganya.

"Ini adalah masa-masa dramatis di Timur Tengah, di mana banyak perubahan terjadi. Sehingga ini bukanlah waktu yang bagus bagi Israel untuk mengisolasi diri," tambah Panetta.

Panetta dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin Israel dan Palestina pekan ini, sebelum menghadiri pertemun menteri pertahanan NATO di Brussels, Belgia.

Tujuan kunjungannya di Timur Tengah ini adalah untuk mendorong tercapainya kesepakatan damai pada akhir tahun depan, setelah pembicaraan damai Palestina-Israel lama terbengkalai.

Hal terpenting yang harus dilakukan Israel, kata Panetta, adalah mencoba membangun hubungan dengan negara-negara tetangga sehingga mereka bisa saling berkomunikasi.

"Itu lebih baik ketimbang saling melempar isu di jalanan," tegas Panetta.

Perundingan macet

Pembangunan permukiman Yahudi di Yerusalem dan Tepi Barat ganggu perundingan damai.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pembangunan permukiman Yahudi di Yerusalem dan Tepi Barat ganggu perundingan damai.

Situasi politik di Timur Tengah menghangat setelah Preisden Palestina, Mahmoud Abbas meminta Dewasn Keamanan PBB mengakui keberadaan negara Palestina dengan batas-batas 1967 sebelum pendudukan Israel.

Amerika Serikat menentang langkah Palestina ini dan menegaskan perdamaian hanya bisa dicapai dengan negosiasi antara Palestina dan Israel.

Namun, Presiden Abbas mengatakan perundingan dengan Israel tidak berguna selama negeri itu masih terus membangun permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem timur.

Pada 2005, Israel sudah menarik pasukannya dari Jalur Gaza, namun kini setidaknya terdapat 500.000 warga Israel di Tepi Barat dan Yerusalem timur.

Sementara itu Israel menyambut baik usulan dibukanya kembali perundingan dengan Palestina yang lama terbengkalai namun masih mempermasalahkan sejumlah detail kecil soal perundingan.

Selain itu, Israel juga tidak setuju untuk mengakui perbatasan Palestina tahun 1967 sebelum masa perang dan pendudukan.

Para perantara atau dikenal dengan Kuartet - AS, Uni Eropa, PBB dan Rusia- mendesak Israel dan Palestina agar menghindari langkah-langkah provokatif.

Tetapi, pekan lalu pemerintah Israel kembali menyetujui pembangunan 1.100 unit rumah baru di kawasan Yerusalem yang merupakan wilayah yang direbut dalam perang tahun 1967.

Langkah Israel ini menuai kecaman dari dunia internasional.