DPR Minta Evaluasi Menu MBG Usai Riset UI Temukan Siswa Tak Habiskan Makanan
Penelitian FISIP UI menemukan banyak siswa SD di Jakarta tidak menghabiskan makanan program Makan Bergizi Gratis. DPR meminta evaluasi variasi menu.

Hasil penelitian Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menunjukkan mayoritas siswa sekolah dasar di Jakarta tidak menghabiskan makanan yang disediakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Temuan tersebut menimbulkan potensi terjadinya pemborosan makanan atau food waste dalam pelaksanaan program tersebut.
Penelitian dilakukan di lima sekolah dasar yang berada di wilayah Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Studi ini dipimpin oleh Dosen Antropologi FISIP UI Dian Sulistiawati.
Riset berlangsung sejak Juni hingga September 2025 dengan menggunakan metode wawancara serta observasi langsung terhadap siswa, guru, pengelola sekolah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Badan Gizi Nasional (BGN).
“Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nyata yang rinci dan mendalam tentang pelaksanaan MBG di beberapa sekolah di DKI Jakarta,” ujar Dian, dikutip dari laman resmi FISIP UI, Rabu (4/3/2026).
DPR Minta Evaluasi Menu dan Sasaran Program

Menanggapi hasil penelitian tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago menilai perlu dilakukan evaluasi terhadap variasi menu yang disajikan dalam program MBG.
Menurut Irma, menu makanan perlu disesuaikan dengan selera anak-anak tanpa mengabaikan standar gizi yang telah ditetapkan.
“Anak SD kan memang makan sesuai selera, sedangkan MBG makanan bergizi, jadi tentu ada yang selera ada yang tidak. Oleh karena itu SPPG harus faham dalam menu harus sesuai dengan selera anak-anak tetapi tetap dengan kecukupan gizi,” kata Irma saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2026).
Ia juga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi terhadap kinerja SPPG yang bertugas mengelola serta mendistribusikan makanan program tersebut.
“Salah satu ketidak fahaman SPPG dalam mengolah dan mendistribusikan menu dan itu harus menjadi evaluasi BGN,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini menekankan pentingnya ketepatan sasaran dalam pelaksanaan program MBG.
“Perlu kejelasan sasaran. Pemerintah perlu memperjelas kriteria dan prioritas sekolah penerima manfaat MBG,” kata Yahya saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2026).
Yahya juga menyoroti perlunya variasi menu agar siswa tidak merasa bosan sehingga makanan yang disediakan dapat dikonsumsi hingga habis.
“Siswa tidak habiskan makanan karena menu tidak bervariasi sehingga menimbulkan kebosanan pada anak. Saya meminta BGN untuk mengedukasi SPPG agar memperhatikan 3 hal. Pertama, kandungan gizi menu jangan sampai kurang dari standar. Kedua, keamanan makanan harus terjamin. Ketiga, menu harus bervariasi supaya siswa tidak bosan sehingga makanan di makan habis oleh siswa,” bebernya.



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5521350/original/092238400_1772687154-Screenshot_2026-03-05_120437.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5521888/original/007226600_1772703226-__stanbul_S__leymaniye_K__lliyesi__1_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519479/original/075322600_1772573997-hugo-ekitike-liverpool-ladislav-krejci-wolverhampton-wanderers-liga-utama-inggris.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5334346/original/088056600_1756713071-AP25243767094515.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473370/original/050755600_1768435239-AP26014734397064.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519604/original/087478500_1772588128-Franco_Mastuantono.jpg)




















