Wamendagri Bima Arya Ajak Mahasiswa HI Siapkan Diri Hadapi Dinamika Global
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengajak mahasiswa, khususnya jurusan Hubungan Internasional, untuk membaca tanda zaman dan menyiapkan diri menghadapi dinamika global yang terus berubah.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto baru-baru ini menyerukan kepada para mahasiswa, khususnya yang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional (HI), untuk proaktif. Ia menekankan pentingnya kemampuan membaca tanda zaman serta kesiapan diri dalam menghadapi berbagai dinamika global yang terus berkembang.
Pernyataan tersebut disampaikan Bima Arya saat menjadi pembicara kunci dalam acara Binus International Relations Festival (Birfest) 2025. Festival yang mengusung tema "The Age of Recalibration: Connecting Youth Across Borders" ini diselenggarakan di Universitas Binus Kampus Anggrek, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Bima Arya menyoroti bahwa dunia saat ini menawarkan beragam skenario dan pilihan, yang sangat bergantung pada informasi serta ideologi yang dimiliki individu. Oleh karena itu, persiapan diri dan pemahaman mendalam terhadap konteks zaman menjadi kunci untuk mengambil keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian global.
Memahami Pilihan Hidup dalam Konteks Zaman
Bima Arya Sugiarto berbagi kisah perjalanan studinya di Hubungan Internasional Universitas Parahyangan hingga menjadi dosen dan Wali Kota Bogor, sebelum mengemban tugas sebagai Wamendagri. Ia menekankan bahwa setiap pilihan hidup yang diambil seseorang sangat dipengaruhi oleh informasi yang tersedia dan konteks zaman yang melingkupinya.
Mengutip buku klasik "World Politics: The Menu for Choice" yang populer di kalangan mahasiswa HI, Bima Arya menyatakan, "Dunia adalah menu for choice menurut (teori) Hubungan Internasional. Dunia itu menawarkan macam-macam skenario, macam-macam pilihan, dan tergantung informasi dan ideologi apa yang kita punya, akhirnya kita memutuskan." Pernyataan ini menegaskan kompleksitas pengambilan keputusan di era modern.
Pemahaman akan konteks zaman ini menjadi krusial, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Mereka perlu memiliki landasan kuat dalam menganalisis berbagai kemungkinan dan konsekuensi dari setiap pilihan yang ada.
Pergeseran Geopolitik dan Bangkitnya Aktor Baru
Bima Arya juga menjelaskan bagaimana perubahan global telah membentuk ulang pilihan geopolitik dunia. Jika era Perang Dingin hanya menawarkan dikotomi dua blok kekuatan, kini lanskap global jauh lebih kompleks dengan munculnya aktor-aktor baru, isu-isu yang semakin meluas, dan dinamika yang sulit diprediksi.
Kondisi ini, yang oleh Michiko Kakutani dalam bukunya "The Great Wave" disebut sebagai bangkitnya para outsider, menunjukkan pergeseran paradigma kepemimpinan. Bima menyoroti contoh-contoh seperti perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat, terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York, hingga munculnya Rob Jetten sebagai Perdana Menteri Belanda termuda.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak lagi terpaku pada dikotomi tua-muda, melainkan lebih fokus pada pendekatan kampanye dan program kerja konkret yang ditawarkan para kandidat. "Zohran menawarkan the real thing, hal yang sangat konkret sekali, biaya sewa apartemen yang murah, transportasi yang murah, dan juga biaya-biaya kehidupan yang murah. Itu Zohran Mamdani," ujarnya, menyoroti relevansi program kerja.
Tantangan Bonus Demografi dan Masa Depan Indonesia
Menghadapi bonus demografi yang didominasi oleh generasi muda, Bima Arya menekankan bahwa dua dekade ke depan akan menjadi periode penentu bagi Indonesia. Tantangan utamanya adalah bagaimana negara ini dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah dan bertransformasi menjadi negara maju.
Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa Hubungan Internasional untuk tidak hanya mampu membaca tanda zaman, tetapi juga memahami berbagai disrupsi yang akan memengaruhi perjalanan menuju status negara maju. Pemahaman ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat dan berkelanjutan.
Bima Arya mengungkapkan optimismenya terhadap masa depan Indonesia. "Bayangkan waktu saya seusia kalian, jauh itu negara maju untuk Indonesia. Today, it is so close in 20 years' time, 20 tahun lagi cepat. Kalau kita berhasil keluar dari jebakan kelas menengah, memanfaatkan bonus demografi maka kita akan menjadi negara maju. Satu dari lima negara terbesar ekonominya di dunia," kata Bima, memotivasi para mahasiswa.
Kekuatan Logika HI dan Pentingnya Membangun Jejaring
Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya juga menyoroti dua konsep penting bagi mahasiswa HI. Pertama, the logic of two-level games dari Robert D. Putnam, yang menjelaskan bahwa diplomat harus memainkan peran di panggung internasional sekaligus domestik agar kebijakan luar negeri efektif. Kedua, the prisoner’s dilemma dalam teori permainan, yang membantu memahami cara aktor lain berpikir di bawah tekanan serta bagaimana strategi dibentuk melalui kalkulasi risiko.
"The advantage of being International Relations students is the power of logic. Teori-teori ini membuat kita logic. Teori-teori ini membuat kita berpikir lebih sistematis dan terstruktur. Makanya saya cinta sekali ilmu HI, senang, karena di dalamnya itu kita dilatih exercise banyak hal," tambahnya, menekankan nilai analitis dari ilmu HI.
Selain itu, Bima turut menampilkan sejumlah tokoh nasional untuk menegaskan pentingnya membangun jejaring yang positif. Ia mengajak mahasiswa menjauhi pergaulan yang toxic serta membangun relasi yang produktif. Ia juga mendorong mereka memiliki jiwa aktivis, wawasan global, dan tetap berakar pada nilai-nilai nasionalisme sebagai bekal kepemimpinan masa depan.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473406/original/018329500_1768441757-Real_Madrid_vs_Albacete_debut_Arbeloa-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475371/original/033901300_1768585843-IMG_2590.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474672/original/039878600_1768528837-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_08.49.17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5357651/original/076578000_1758536150-616b3847-bf9b-4f66-9950-991a1c466855.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)
















